MY ECSTATIC BIRTH : Melahirkan Maulana Yusuf Ghifari ke Dunia

Usia kehamilan saya menginjak 41 minggu 2 hari saat Yusuf lahir ke dunia, Rabu 24 Agustus 2011 jam setengah 4 sore. Dua hari sebelumnya saya benar-benar masih ragu, bisakah segala upaya yang saya kerahkan selama ini membuahkan hasil yang manis?  Akankah Yusuf lahir sendiri alami tanpa obat-obatan? Bagaimana bila kontraksi alami itu tak kunjung terjadi juga? Mulai berani membuat visualisasi kepasrahan diri bila kami harus menjalani induksi atau bahkan operasi Caesar. Apapun yang menjadi kehendakMu, tetap akan terjadi Ya Allah. Saya menutup diri dan lebih berfokus ke dalam.

Sambil berjalan atau melakukan sesuatu, sesekali saya coba masuk ke dalam tubuh janin saya, mencoba meresapi apa pesannya, apa yang dirasakannya, dan apa yang diinginkannya. Kerja sama kami berempat selama ini sudah bagus sekali. Selalu berusaha melewatkan waktu dengan hal-hal menyenangkan seperti nonton, makan, ngemall. Minggu lalu saya katakan pada suami bahwa yuk kita puas-puasin untuk sedikit hedonis selama 3 hari ini, kan nanti dedek datang kita sudah nggak bisa kemana-mana lagi.

Pada hari Senin saya dan bidan saya berkomunikasi via Blackberry Messanger, dia sudah sampai dari event pelatihan di Bali dan sekarang siap untuk menunggu komando dari saya. Saya pesankan supaya dia istirahat dulu biar staminanya pulih kembali. Dia juga berpesan kalau bisa saya buat campuran jus jeruk, telur kampung dan castor oil untuk diminum supaya bereaksi sebagai induksi alami. Wah sayang sekali castor oil susah didapat kalau mendadak begini.

Cari alternatif lain dulu deh, saya dan mama memutuskan untuk pergi berbelanja bekal makanan selama pembantu pulang mudik nanti. Masih semangat jalan kaki seputaran Plaza Pondok Gede dan sesekali terasa dorongan dan perasan ringan dari rahim saya. Ayo?ayo lanjutin terus, ini yang aku tunggu-tunggu? Tapi ternyata hari itu memang belum saatnya. Malam harinya saat suami pergi keluar, saya minta supaya beli jeruk Sunkist yang banyak untuk dibuat jus. Castor oil tidak punya, jus jeruk saja bolehlah dicoba, yang penting efek cuci perutnya sama. Setibanya di rumah suami tidak saja membawa jeruk, tapi juga durian setengah buah. Buat saya semua ujarnya, ckckck.

Selasa pagi pesan BBM dari Bidan Yesie mengatakan bahwa dia akan berangkat ke Jakarta keesokan harinya, dia ada feeling kalau tidak besok ya lusa adik Yusuf bakal lahir. Wah saya dibilang seperti itu malah jadi panik sendiri, apa iya? Saya kok belum merasakan apa-apa? Sementara dalam hati saya juga sangat mengidamkan persalinan itu untuk segera tiba. Agak takut bila Selasa berganti menjadi Rabu, pihak Rumah Sakit X akan menelpon ke rumah atau ke HP untuk menagih janjiku datang untuk induksi.

Ya Allah, saya takut beneran.. Tapi rasa takut itu malah memacu saya untuk semangat mencari castor oil di segenap penjuru seller online dan menelpon semua swalayan yang menjual bahan-bahan organic seperti Ranch Market, Food Hall, Total Buah Segar dan lain-lain. Hasil nihil, tapi harapan masih ada. Padahal ternyata manfaat castor oil untuk persalinan memang bagus sekali setelah saya cek di internet. Masyarakat Bali rata-rata akrab dengan manfaat castor oil untuk para ibu hamil yang sudah masuk bulannya. Penggunaan di saat yang tepat akan memberikan efek yang cepat namun alami, tidak seperti rumput Fatima yang lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya. Baiklah, saya belum berjodoh untuk minum castor oil?semoga Tuhan memberikan jalan lain.

Pukul 2 siang saat saya nyaris tertidur melakukan relaksasi hypnobirthing, Bidan Yesie menelpon dan memastikan besok siang akan berangkat, dia akan mengupayakan induksi alami ke saya serta relaksasi juga untuk mempercepat proses. Sembari menunggu selama semalam ini, saya ditugaskan untuk menekan titik-titik akrupesur tertentu, kalau bisa (maaf) bercampur dengan suami, juga makan nanas atau durian (setelah menutup telpon saya langsung makan durian semalam tiga biji, kok ya feeling suami saya dapet sampai membelikan saya durian sebanyak ini).

Selain itu Bidan Yesie juga bilang akan sangat bagus sekali kalau saya bisa datang ke Klinik Pro V di Permata Hijau untuk melakukan terapi NTS (Neuro Tendo Stimulation) dengan Suhu Haryanto, efek dan energi saya akan selaras setelahnya. Sayapun sebagai klien yang kooperatif langsung menghubungi Pro V saat itu juga untuk membuat janji di Rabu pagi keesokannya. Ternyata terapis NTS bapak Haryanto tidak berpraktek hari Rabu, hanya Selasa-Kamis.  Entah didorong oleh kekuatan apa, sayapun sore itu berangkat jam setengah 6 sore menuju Pro V, sendirian naik taksi. Nekat memang, tapi rasa cinta yang begitu besar kepada adik Yusuf memang bisa membuatku melakukan apa saja. Alhamdulillah suami tercintaku juga manut-manut saja saat saya pamit pergi dan minta tolong dia jaga Baim. Dia cuma Tanya balik jam berapa Bun? Saya bilang jam 8 Insya Allah.

Pukul setengah 7 malam sampai di Pro V, disambut ibu Lanny Kuswandi yang ramah dan baik luar biasa, saya mendaftar, menumpang Sholat Maghrib, lalu langsung diterapi NTS oleh Suhu Haryanto. Selama diterapi Ibu Lanny selalu mendampingi di dalam ruangan sambil mengecek perut saya, memancing Yusuf bergerak lalu mengelus-elusnya. Terapi selesai dalam 1 jam dan sayapun pulang. Tiba di rumah pukul 21.30 malam, lalu tidur seperti biasa dengan ayah dan Baim.

Rabu jam 01.00 dini hari sembari tidur mulai merasakan perasan-perasan rutin diperut. Hey, mantap sekali efek NTS nya, ayo lagi. Saya sungguh menikmatinya, ini yang sudah ditunggu sejak lama. Pingin sekali mengabari Bidan Yesie tapi ini kan dini hari, dan masih ringan kok rasanya, nanti saja deh. Jam 03.00 saya niatkan bangun untuk sholat Tahajud, lalu duduk di atas bola bersalin. Suami terbangun sebentar, saya bisikkan, “Udah berasa mules kontraksi Yah, tapi dikit-dikit, enak gak kaya dulu.” Dia tidur lagi, tapi ganti-ganti posisi terus sambil ngomong, “Ah, udah gak bisa tidur nyenyak kalo begini.”

Jam 03.45 alarm sahur berbunyi, Baim terbangun kaget dan manja minta nenen. Saya pikir biar lebih oke dan cepat kontraksinya saya kasih saja. Nggak tahunya setelah tiga atau 4 hisapan, gelombang rahim yang agak besar datang dan blessss.. ketuban saya pecah. Sekarang saatnya bilang “Oow?!?” dan mulai panik beneran. Saya lari ke kamar mendi dan mendapati daster saya basah, air ketuban keluar lumayan banyak, jernih tidak kelihatan warna apa-apa.

Oh Tuhan, yang saya takutkan terjadi, saya pecah ketuban duluan, sudah tidak bisa waterbirth dengan optimal lagi deh. Saya langsung menghubungi para Bidan.. Karena panik saya juga menelpon Bu Lanny minta pendapat gimana ya kira-kira dengan Bidan Yesie yang berangkat siang ini apakah masih kekejar. Beliau menyarankan supaya tenang, bed rest dan banyak minum air putih atau Pocari. Beliau akan berusaha datang duluan supaya saya tenang.  Baim langsung diungsikan ke nanny nya. Alhamdulillah semua sangat baik dan menenangkan.

KALA 1 PERSALINAN

Jam 05.00 Tante Pardjo datang, mengelus dan memijat saya. Background musik well being sudah dipasang, lilin aromaterapi sudah dinyalakan. Ruangan gelap, udara subuh segar masuk lewat jendela. Saya disarankan untuk berbaring miring ke kiri. Ruangan ini telah menjadi tenang seperti kuil.

Jam 06.00 Reza Gunawan guru Trauma Healing dan Self healing saya menelpon, berpesan kalau KPD itu standar Rumah Sakitnya adalah bisa bertahan selama 12 jam. Namun bila kondisi kita di rumah, bed rest, minum banyak, dan tenang, ada yang bertahan hingga 3×24 jam. So tenang saja dan selamat ya, ujarnya. Hebat dan positif sekali orang-orang ini, belum lahir saja sudah kasih selamat. Saya beruntung deh pernah belajar sebentar dan memetik ilmu dari mereka.

Jam 07.30 Bidan Yesie mengabari sudah ada di pesawat menuju kesini. Alhamdulillah bisa berangkat dengan jadwal yang lebih cepat, semoga berjodoh dengan Yusuf. Dia menyuruh saya untuk mensterilkan kolam lalu dipompa. Lho saya bingung, “Bukannya kalau KPD sudah tidak disarankan waterbirth mba??” tanya saya. “Kita lihat nanti bagaimana ya, disiapkan saja dulu semuanya.”

Jam 08.00 Ibu Lanny datang, membuat saya jauh lebih percaya diri lagi. Kondisi tenang dan damai sehingga rembesan akhirnya mulai stagnan berhenti, kontraksi juga kembali jarang. Adik Yusuf lagi nungguin bidannya. Ibu Lanny dan Tante Pardjo asyik mengobrol sendiri dengan suara rendah. Suasana kamar saya yang akrab, tenang, membuat definisi waktu jadi bias. Inilah ruang bersalin terbaik di dunia, pikirku. Saya terus rajin melakukan siklus minum-berkemih-minum-berkemih demi terjaganya kuantitas air ketuban yang sudah pecah ini.

Jam 10.00 Bidan Yesie dan asistennya tiba di rumah. Background musik sedang memutar CD Katahati Institute nya Bapak Erbe Sentanu berisi Dzikir Istighfar. Setelah kami bersalaman dan cium pipi, dengan sigap mereka menyiapkan peralatan. Kemudian Bidan Yesie melakukan cek dalam dengan lembut. Alhamdulillah tidak sakit seperti dulu persalinan Baim, saya hanya merasa terdesak. Serviks saya sudah lunak, pembukaan 4, namun kepala Yusuf masih jauh di atas nih. Harus diupayakan induksi alami, mobilisasi dan homeopati. Sayapun disuruh jalan-jalan meski perlahan, duduk di bola bersalin melakukan gerakan pusaran, dan menggoyangkan pinggul (pelvic rocking). Senangnya bisa keluar kamar juga, berjalan-jalan mengitari rumah, bisa melihat keluar jendela, bunga-bunga dan tanaman di luar, nikmat sekali bisa mengambil energi dari alam. Karena merasa saya sudah aman bersama bidan saya, Ibu Lanny minta pamit karena ada urusan lain.

Jam 12 siang saya makan sambil tiduran. Kemudian dilakukan relaksasi hypnobirthing. Saya membujuk Yusuf supaya mau turun dan segera bertemu kita semua, saya puji dia anak pintar dan jenius, dia tahu apa yang harus dilakukan tanpa ada yang mengajari. Kontraksi saya terasa menguat saat saya berada dalam kondisi hypnosis itu, namun dengan otomatis saya bisa menyalurkannya lewat nafas panjang dan dalam, lalu dihembuskan keluar dengan panjang diiringi suara, kadang “aaaah” kadang “omm”, apapun yang saya rasa benar.

Saya memilih untuk menikmati setiap kontraksi yang datang daripada harus melawannya. Mama yang sempat mampir untuk melihat kondisi saya jadi bingung, tiap kali kontraksi kok saya malah mendesah. Bidan bilang cara itu bagus sekali untuk menyimpan energi dengan efisien dibandingkan kalau kita teriak-teriak, tangan mengepal dan nafas memburu. Saat kontraksi berakhir, saya bernafas seperti biasa, bisa mengobrol, mendengarkan para bidan saya bergosip ria, pokoknya terasa seperti di rumah, karena memang saya berada di rumah.

Waktu terus berjalan, cek rutin Doppler terus dilakukan, Alhamdulillah detak jantung Yusuf selalu stabil dan kuat, arjuna ku sedang berjuang turun menuju dunia. Namun sepertinya ada sesuatu yang salah, baik saya maupun para bidan menyadarinya. Kontraksi saya ringan sekali, tidak sampai 30 detik durasinya. Sayapun yang mengalami itu merasa aneh, ini rasanya jauh sekali dengan melahirkan anak pertama dulu dengan induksi. Enak, enak sekali, tidak sakit, hanya mulas. Skala 5 dari rentang 1-10. Sedangkan nyeri induksi waktu dulu bisa mencapai 9,5 skalanya. Bidan saya mulai khawatir kontraksi ringan ini tidak cukup efektif membawa bayi saya turun lebih jauh. Saya juga mulai jadi ragu, beneran nggak sih ini sudah benar kontraksinya? Merekapun melakukan induksi alami lebih giat lagi dengan sentuhan-sentuhan dan tekanan di titik tertentu untuk merangsang keluarnya endorphin.

Jam 13.30 saya tidak bisa menahan kantuk, badan sudah mulai lelah terjaga dari dini hari tadi. Sambil duduk di bola bersalin sambil dielus-elus di sana sini oleh 3 orang membuat kepala saya kadang-kadang terjatuh karena ngantuk, persis seperti ketiduran di angkot. Saya minta tidur sebentar, dan bisa! Sambil sesekali kontraksi tetap datang sehingga saya terbangun lagi untuk menggenggam tangan bidan. Baru kali ini saya tahu bahwa kita bisa tertidur di tengah-tengah proses persalinan. Bu Lanny yang sudah selesai urusannya tiba kembali di rumah untuk mendampingi saya, sambil saya tidur itu beliau mengelus tangan saya sambil mensugestikan bahwa bayi akan tetap turun ke bawah, semakin tertidur pulas, tidur yang sehat, bayi terus menuju ke bawah. Lalu kontraksipun datang. Begitu seterusnya.

Entah ada berapa menit atau jam yang terlewatkan, yang saya kurang bisa mengingat ada kejadian apa saja waktu itu. Yang penting saya sungguh mengalami distorsi waktu secara otomatis. Bidan saya secara bergiliran juga beristirahat. Bidan Yesie malah menyempatkan diri untuk meditasi di ruang tamu. Intinya selama itu saya selalu menerima limpahan kasih sayang, diperlakukan layaknya permaisuri, segala bentuk usapan dan belaian dikeluarkan untuk memicu endorfin. Terngianglah kembali suara Michel Odent di kepala saya, lalu saya katakan dengan jelas, “yang penting dalam persalinan adalah keluarnya endorfin hingga menekan adrenalin”.

Jam 15.00 saat semua sudah mulai merasa sedikit kepayahan, penuh ketidaktahuan kapan bayi ini lahir, tercetuslah ide dari ibu Lanny untuk melakukan posisi berjongkok sambil bersandar ke bola, lalu melakukan ayunan rutin ke atas dan ke bawah. Saat beliau mencontohkan posisi tersebut, hmm terasa seperti akrobat. Namun setelah saya coba, saya bisa melakukannya, dan enak sekali. Saat pinggang dan bokong mulai pegal saya istirahat sebentar di kursi dingklik untuk kemudian mulai lagi. Tidak disangka ternyata posisi dan gerakan tersebut menurunkan kepala bayi saya jauh lebih cepat dari yang dikira. Saat dilakukan cek dalam ternyata saya sudah bukaan 8 dan kepala sudah tersentuh saat dua ruas jari masuk. “Wow, ini adeknya pintar sekali,” kata bidan Yesie. Langsunglah suami saya dikomando untuk segera memasukkan air panas ke dalam kolam yang sebagian sudah diisi air dingin itu.

Semua sudah mulai sibuk, sibuk-sibuk bahagia. Bidan Yesie keluar mencari bunga-bungaan untuk dimasukkan ke dalam kolam. Perut saya yang merasakan kondisi bersemangat itu juga turut intens meningkatkan kekuatan perasan dan tekanannya, desahan sayapun semakin kuat hingga suamiku malah tertawa mendengarnya. Jadinya saya akan tetap mengeluarkan bayi di dalam air. Ketuban pecah dini bukan halangan untuk melakukan waterbirth, hanya saja memang tidak bisa masuk air semenjak bukaan 6 seperti kasus-kasus normal. Saya hanya boleh menumpang mengeluarkan bayi saat bukaan lengkap.

Selama menunggu pembukaan, saya harus mengelola rasa nyeri kontraksi dengan cara lain di luar kolam. Lagipula nyeri yang saya rasakanpun tidak seberapa ternyata, sungguh. Hanya mulas-mulas seperti ingin buang air. Meski tidak bisa lama-lama di air; proses kelahiran Yusuf akan tetap gentle, bayi akan menyentuh air terlebih dahulu sebelum berkontak dengan udara, transisi yang sungguh lembut. Setelah kolam dan air siap, saya disuruh untuk buang air kecil terlebih dahulu. Buang air kecil sangat penting sebelum kala 2 kelahiran bayi. Kandung kemih yang kosong menghasilkan chakra dasar yang kuat untuk mengeluarkan bayi. Sayapun ke kamar mandi untuk berkemih, saya coba dengan posisi berdiri, namun tidak berhasil mengeluarkan apapun dari kandung kemih ini. Sayapun bertanya dari dalam, “Mbaak, kok nggak bisa keluar??” Bidan Yesie melongok ke dalam sambil menyuruh supaya sambil duduk di kloset. Saya coba, berhasil keluar sedikit. Lalu ketika saya bangit dari kloset, detik itupun datang..

KALA 2 PERSALINAN

Saat saya bangkit dari kloset, ada rasa nyeri hebat yang sebenar-benarnya. Inilah nyeri sesungguhnya. Nyeri karena dorongan sesuatu dengan kekuatan yang begitu besar. Tak kuasa saya mulai berteriak panik karena reflek. Sensasi campur aduk ini sungguh tidak bisa dijelaskan. Bidan Yesie serta merta datang memegang dan memeluk saya. Lagi-lagi, sama saja seperti kejadian saat saya melahirkan anak pertama, kata-kata tidak senonoh itu spontan terlontar dengan keras, “Mbak Yesiieee!! FESESNYA MAU KELUAAAARR!!! FESESNYA MAU KELUAAAARRRRR!” Sambil saya menangis. Sekian mili detik saya kembali ke kejadian dua tahun lalu.

“DOKTEEEER SAYA MAU E?*G!!!!”

Lalu kembali ke saat ini dua tahun kemudian, dengan teriakan yang sama nyaringnya, terdengar jelas ke telinga semua orang di ruangan itu.

“MBAAAK, FESESKU MAU KELUAAARRR!”

Melahirkan sungguh tak pernah terasa sopan buatku.

“Nggak apa-apa, biarin keluarkan aja.”

Saya mohon maaf kepada segenap pembaca yang budiman, yang terjadi berikutnya seiring satu gelombang besar kala 2 persalinanku adalah : pluk, pluk, di lantai, lalu tetesan darah.

Yakin isi colonku sudah bersih, aku berjalan pelan dipapah menuju kolam, kepala Yusuf sudah benar-benar di ujung. Saat panggul sudah terendam dalam air, cesss…rasanya seperti bokong kebakar yang disiram, legaaa sekali. Aku menggerung berulang-ulang seperti mamalia, dalam posisi setengah berjongkok, tangan menyandar ke dinding kolam, mengumpulkan energi untuk aksi berikutnya. Saya bingung sekali karena tubuh saya bekerja sendiri mendorong kepala bayi, tidak ada istilah mengejan apalagi di bawah instruksi. Tak berapa lama kemudian, gelombang pasang berikutnya tiba, dan saya tahu inilah saatnya, saya ikuti gelombang itu dengan raungan panjang dan nyaring “AAAAAAARRRRRRRGH!” seperti ingin menyampaikan kepada dunia bahwa inilah kelahiran anakku.

Ada satu titik dimana segenap tubuh ini menyerah dalam otak reptil saya, saya hanya ingin bangkit dan mengaum seperti singa. Kedua bidan saya masih berada di depan saya sebelum akhirnya Mbak Ulya sang asisten yang menjaga di belakang saya berujar keras sambil menunjuk-nunjuk “Ibu! Kepala! Kepala!” Semua bidan beralih ke belakang tubuh saya, menangkap kepala, lalu mengecek posisi bayi, dan mengatakan dia perlu bantuan saya untuk mengejan sekali saja. Saya lakukan itu sekali dengan kuat dan beberapa saat sesudahnya saya dengar tangisan Yusuf dibelakang sana. Wah syahdu sekali, suamiku yang dari tadi selalu ada namun hanya berani mengamati, langsung memegang tangan saya dan mencium saya “Good job, bun.” Saya menangis bahagia. Maulana Yusuf Ghifari lahir pukul setengah empat sore, tepat 30 menit setelah kami semua nyaris resah dan putus asa. That’s exactly how the greatness of Allah SWT works.

KALA 3 PERSALINAN

Pelan-pelan saya membalikkan badan sembari melangkahi tali pusat yang masih terhubung ke dalam perut saya. Saya terima baby Yusuf di tangan, kemudian merasakan cocktail of love seperti yang dikatakan Michel Odent. Kini perang hormon telah usai, tinggal hormon-hormon cinta yang berpadu, entah berapa jenis hormon cinta, saya merasakan semuanya. Badannya begitu mungil, kulitnya masih setengah biru, matanya mengerjap-ngerjap. Mama datang memberi selamat, papa juga, semua larut dalam kebahagiaan di gua privat ini. Lalu saya diajak untuk melahirkan plasenta di luar kolam, saya langsung bisa berjalan keluar kolam menuju tempat tidur sambil mendekap Yusuf di dada saya. Plasenta saya lahir dengan lancar.

Pertanyaan saya kepada bidan, “Apakah panjang dan ukuran tali pusatku mencukupi syarat untuk dilakukannya Lotus Birth, mbak??”

“Oke, bisa ini.”

Alhamdulllah keinginanku untuk Lotus Birth terwujud. Selanjutnya, semua kegiatan orang-orang di kamar ini tak ada artinya lagi. Hanya ada Yusuf dan saya. Bidan Yesie berujar
saya perlu dijahit karena ada sedikit robek namun lurus dan rapi karena robeknya di dalam air, posisi kepala Yusuf tadi ternyata posterior, jadi manuver putaran paksi kepala Yusuf untuk mengeluarkan bahu dan seluruh tubuhnya merobek sedikit jalan lahirku. Kubilang silahkan dijahit saja, aku asyik sendiri dengan IMD sekaligus bonding pertama dengan Yusuf.

Waktu semakin menjadi distortif. Selama pembukaan berjam-jam tadi aku merasakannya cepat, sedangkan setelah lahir, semuanya seakan berjalan dengan gerak lambat. Bu Lanny (sekarang aku memanggilnya Ibu Peri yang baik hati) berkata, “Beneran ya bu Hanita, akhirnya kita sudah menjadi bukti.” Terlalu banyak hal yang menari-nari indah di kepala seperti kaleidoskop, segala usahaku, keteguhan belajarku, kemudian orang-orang hebat ini dengan sendirinya didekatkan oleh Allah kepadaku, lalu sekarang Yusuf lahir lembut dan selamat di dadaku, inilah ecstatic birth. Dengan mengalami sendiri cara Yusuf lahir ke dunia, maka semakin ingin dan semakin besarlah panggilanku. Aku bersedia melakukan apa saja agar wanita lain merasakan hal yang sama, pengalaman yang sama, air mata bahagia yang sama.

Terimakasih ibu Lanny Kuswandi sang ibu Peri, pendampingannya di saat-saat terakhir menjelang persalinan akan selalu saya ingat.

Terimakasih Bidan Yesie yang dari detik pertama sudah sangat sinergis dengan segala prinsip dan keinginan saya, kami mengagumi guru-guru yang sama, membaca artikel-artikel yang sama, kamulah soulmateku di bidang kebidanan, mbak..

Terimakasih Bidan Ulya sang asisten yang lucunya minta ampun, selalu memecah kesunyian dengan humor, namun segera hening kembali memegang erat tangan saya tiap saya memberi kode kontraksi sedang datang.

Terimakasih Tante Pardjo, yang sudah stand by dari sebelum semua muncul, dan stay sampai setelah semuanya pulang untuk mengobservasi perdarahan saya selama 2 jam.

Terimakasih mama papa yang sudah mau menerima konsep-konsep persalinan ini. Membantu menjaga Baim saat saya tidak bisa menjaganya. Rumah dan naungan kalian selama 2 bulan ini sudah membuat semua ini berhasil terjadi.

Terakhir, terimakasih yang sugguh besar untuk suamiku..yang sejak awal sudah sangat mendukung meski tanpa berperan aktif. Cukup dengan mengijinkan saya melahirkan dengan cara saya, pilihan saya, pandangan saya, itu saja sudah sangat besar tak terkira maknanya buat saya dan Yusuf. Dia menerima saya dengan segala keanehan saya, kehausan wawasan serta passion saya yang terkadang merepotkan dan tidak lumrah. Dia yang meski sangat logis dan konvensional namun tak banyak melarang saat saya mengikuti sekian pelatihan pembersihan trauma dan penyembuhan holistik. Dia yang rela kutinggalkan sendiri kesepian demi mengejar keinginanku. Dia yang melangsing karena terlalu sering makan apa adanya, seringkali hanya mie instan. Dia yang dulu terpekik ngeri melihat sekian gambar bayi lotus birth yang “sengaja” saya tayangkan di layar komputernya, kini akhirnya mengijinkan dan menyukai anaknya menjadi satu dari sedikit Lotus Baby yang ada di dunia. Terimakasih ayah, sungguh cintamu tak terkira adanya.

Yes I say it aloud. I will do anything, yes, anything to make other women have this experience, their own ecstatic birth.

PASCA PERSALINAN

Semua begitu mulus dan indah. Tidak ada kata begadang dalam kamus Maulana Yusuf Ghifari, anak ini lahir dengan sangat sadar dan minim trauma. Kondisi saya kuat, lebih baik dari pengalaman sebelumnya. Satu jam setelah bersalin saya BAK sendiri, tidak ada kateter, tidak ada perut diremas-remas paksa untuk mengosongkan urin. Di hari ketiga saya bisa BAB dengan lancar. Perdarahan saya berkurang dengan cepat. Hari keempat nyeri jahitan saya hilang, duduk-bangun-jalan sudah tidak kikuk lagi. Menyusui sama sekali bukan masalah, yusuf menggemuk dengan cepat di minggu pertama hidupnya.

Satu-satunya alasan Yusuf bisa menangis kencang sekali setengah mengamuk adalah tak sabar ingin minta nenen. Minumnya Alhamdulillah banyak sekali sampai marah-marah tidak mau ditunda. Lotus Birth berjalan lancar dengan dukungan semuanya. Tidak ada istilah jaundice, karena selain kami melakukan Lotus Birth, cahaya matahari pagi Alhamdulillah juga lagi bagus sekali. Menjemur Yusuf adalah waktu paling favoritku sambil tafakur alam, menikmati hangat matahari, kicauan burung, udara bersih, berada di sini kini.

Mama takjub sekali melihat pengaruh Lotus Birth terhadap ketenangan Yusuf, dia barulah memuji saya, “Dek, kamu tuh aneh tapi ternyata anehnya bagus dan bermanfaat ya.” Akhirnyaa mamaku bangga punya anak setengah dukun. Baim juga mengerti bahwa sementara ini dia harus jarang bersama bundanya, karena bunbun sedang menyusui adiknya on demand tanpa henti. Rasa sedih sih pasti ada, saat ayah harus kembali ke Riau, kami harus berpisah sementara; atau saat saya sedang kangen sekali sama Baim, lalu dia datang dan memeluk saya kuat dan lama sekali, aah terharu Nak, Bunbun yakin waktu akan berjalan cepat. Adikmu akan cepat besar dan kuat, kalian akan segera bermain bersama. Kalian akan tumbuh bersama menjadi dua perjaka tampan. Bayangan Bunbun sudah melayang-layang ke beberapa tahun ke depan di mana kita berempat akan melewatkan waktu indah bersama, liburan, petualangan, belajar dan bersenang-senang. Life is good, many sweet things are waiting in front of us.

Bunda sekalian yang selalu dekat di hatiku, hamil dan melahirkan tidak terjadi setiap hari dalam hidup kita. Seumur hidup mungkin hanya dua atau tiga kali. Berikanlah dan curahkanlah yang terbaik untuk diri anda sendiri dan bayi anda. Karena saya, anda, kita semua adalah permaisuri keluarga. Siapapun berhak mendapatkan Gentle Birth/Ecstatic Birth, raihlah dan usahakanlah sebisa mungkin. Saya telah menjadi bukti hidup, dan saya ingin anda semua juga.***

Kisah Bunda Hanita Fatmawati, juga di-publish di Bidan Kita.

Advertisements

Miracle’s Journey of Jeremiah Raphael Charis Simbolon

Kisah Mbak Tantri Maharani Setyorini, dari dokumen grup FB Gentle Birth Untuk Semua.

First time I saw my son
I knew I was in love
Because he was the gift I got from somewhere up above
O wow, o yes, o joy, so joy right here in my arms
He looks at me, I can see he’s showing all his charms
Can’t remember what I do before I saw his face
But now he’s here and I can feel his amazing grace

8weeks

Mami baru sadar hari ini kalau dede sudah ada di perut mami 8 minggu ini, itu juga karena flek-flek yang Mami kira haid.. Tapi ternyata itu tanda dari dede buat kasih tau, “Mih.. aku sudah datang, sekarang sudah ada di rahim Mami loh, senang bisa sampai di rahim mami.”

Rasa syukur tak terhingga, karena saya diizinkan kembali mengikuti sekolah kehidupan luar biasa selama kurang lebih 40 minggu.. Kembali dikandung oleh Sang Pencipta lewat “ruh” yang ditiupkan di rahim saya.

Bersiap secara lahir dan bathin, sama halnya seperti anak yang baru mau masuk sekolah.

Semua dipersiapkan, baik fisik maupun bathin juga mempersiapkan seluruh keluarga termasuk putri saya yang luar biasa, Jemima.

Di kehamilan kedua ini tidak ada keinginan mutlak yang ingin saya raih, berbeda dengan persalinan pertama saya… Harus ini dan itu… Tanpa menilai tubuh saya sendiri… Kehamilan kali ini, saya belajar PASRAH…

Kata pasrah, buka berarti pasraaaahhh tidak melakukan apa2.. tetapi saya jauh lebih pasrah menilik kedalam diri saya dan mendengar lebih dalam apa kata tubuh saya dan bayi saya.

20weeks

Setelah ikutan berjalan-jalan bersama ibu Lanny Kuswandi, bude Yesie Aprillia dan cici Fonda Kuswandi untuk sharing di Tasikmalaya, ternyata mungkin saya kecapean. Dan beberapa hari setelah itu, saya terkena cacar air /rubella.

Sedih rasanya, bukan sedih karena saya merasakan ketidaknyamanan di dalam tubuh saya, tetapi karena saya pernah membaca bahwa apabila ibu yang sedang hamil kena rubella, maka anaknya bisa cacat bawaan karena virus rubella tersebut.

Tapi saya kembali pasrah. Dengan doa permohonan dan niatan bahwa anak saya lahir sempurna baik lahir maupun bathinnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan seluruh keluarga di rahim saya baik ari-ari, air ketuban, selaput ketuban sampai tali pusatnya semua sehat.

24weeks

Siang-siang bolong… kok celana dalam saya basah, ya? Setelah dicek, kok ada noda darah dan saya tau ini kurang baik, sehingga saya memutuskan untuk cek jantung bayi dan semuanya. Puji Tuhan aman. Tetapi kata dokter, Plasenta saya letaknya di pinggir agak ke bawah. hikksss…itu yg bikin flek tadi keluar katanya. Kata dokter lagi, “wah apa bisa lahir lewat bawah nih? kalau ari2 dibawah terus…”

“Duh Gusti, Mohon kekuatan pada saya, dan mohon kesehatan juga untuk anak saya.”

Sambil terus berdoa, saya sangat rajin sekali untuk berkomunikasi dan saya fokuskan tiap hari berbicara dengan ari-ari (plasenta) supaya entah bagaimana caranya, supaya dia bergerak makin keatas, sehingga Charis mudah saat melewati proses lahirnya…”

28weeks

Lagi-lagi ada cairan yg keluar tanpa saya sadari, dan seperti ngompol.. lumayan banyak.. Saya khawatir ini air ketuban, dan saya cek… ternyata air ketuban saya masih banyak, tetapi kembali saya komunikasikan pada selaput ketuban , air ketuban juga bayi saya… ini belum saatnya… ini belum saatnya… bertahanlah didalam sana sampai saatnya tiba… dede bayi masih terlalu kecil, dan posisinya belum baik, waktu itu masih sungsang.

Pre-natal yoga, taichi for pregnant, ideomotor, relaksasi sampai chatting webcam dengan dede bayi via mother healing touch selalu saya lakukan, hanya untuk melihat sedang apa dia disana.. Apakah ari2 sudah ditempatnya yang paling baik? Apakah posisi dede sudah oke? Dan ternyata sampai usia 39weeks 3hari dede masih asik ajojing dirahim Mami, sampai2 bude Yesie bilang… “ancene seneng breakdance rin… anakmu”(memang seneng breakdance rin anakmu), hehehehehe….

Selama sungsang, demi kembalinya si dede ke letak kepala semua usahapun dilakukan, mulai nungging, komunikasi, pijat accupresure sendiri, pakai moksa sendiri, iseng kasih senter di perut bawah tiap mau tidur, atau nyalain musik dan ditaruh tepat diatas vagina.. Si dede emang kasih respon… Kalau didaulat untuk letak kepala, dia langsung ajaa muter badannya, dan posisi jd baik lagi .. kepala dibawah.. tapi gak lama kalau dia mau ajojing.. ya muter2 lagi didalam, sampai akhirnya saya menyerah… hahahahahaha… Saat ada waktu berbicara berdua dengan dede, hati saya seperti denger dede bilang.. “tenang ajaa mih, aku tau yg paling baik untuk persalinanku.. aku bakal muter sendiri tanpa mami apa2in kalau memang aku sudah siap untuk keluar.”

Dan janji si dede ditepati di 39weeks 3 hari..hahahahha.. Saat papinya datang, entah apa yang bikin dia berbalik ketika mbah putri yang sudah mulai khawatir campur gemes karena cucunya sampai 39weeks blm mapan, pengen periksa posisi si dede dan… si dede sudah mapan katanya, bahkan katanya sudah masuk panggul dan turun.

Wowwwww…. Mami cuma bisa takjub aja de… Oke oke, Mami ga akan maksa, apalagi intervensikan apapun lagi ke kamu… Mami hanya bantu dengan pelvic rocking dan squatting posisition tiap hari.

Sampai suatu malam, saya – papinya Jemima dan Jemima tidur bersebalahan sambil bercanda dan iseng2 nanya ama kakaknya, “Kak, kapan dede lahir?” Jawab si kakak, “enam… tujuh… sembilan..” Kita berdua ketawa dengernya.. banyak amat kak angkanya? ini tanggal lahir dede atau nomer togel? hehehehhe…. dede laki2 atau perempuan kak? “laki-laki mih..”jawab si kakak…

Kita ngangguk-ngangguk ajaa…

5 desember 2011

Udah tanggal 5, kok blm ada tanda2 cinta ya?? pasrahhh…..pdahal kata kaka kmrn ada tgl 6 nya… hmm

6desember 2011

Nesting inc saya keluar… tiba2 pengen mandiin mobil dan bersihin rumah.. hahahaha, sampai2 tetangga sebelah melongo… itu mbak rini gak salah? lagi hamil besar masih nyuci mobil sendiri? hahahaha…dilanjut bersihin rumah terutama kamar.

Eh ternyata, saat saya mau mandi sore.. Saya tersenyum lebar sekali ketika melihat flek darah di celana dalam saya… Horeeeee… Kalau bisa loncat, mungkin udah loncat2 kegirangan saat itu.. Tapi kok sampai tgl 7 desember ga ada kontraksi ya? Tanda tanya… hehehehehehe… duren, mangga, jus jeruk sudah saya lahap semua.. tapi kontraksi tak kunjung datang…

tgl 8 desember

Bude Yesie sms, “piye rinn??” .. – masih tenang dan tentram bude, neek bude ono pasien lain.. wis gapapa, aku nyuwun doane wae, aku karo mamah iso kok.. tenang wae – tapi ternyata bude yesieku emang luar biasa.. langsunng dibales.. weess… “aku wes nang ndalan, engko sorean paling nyampe cilacapnya…”

Setelah Bude nyampe, Bude bersih2 badan, bercanda2 dan memang belum ada kontraksi yg adekuat sama sekali sehingga saya dan Bude sama2 sepakat untuk main moksa… Walau sambil makan mendoan.. ehehehhe..

Malamnya, saya ijin Bude Yesie untuk tidur duluan karena mau ngelonin si kakak, rasanya kok waktu dengan si kakak berdua makin singkat ya.. Jadi saya putuskan untuk menggendong kakak dengan kain dan saya bilang, “Kak, sini Mami gendong aja ya.. kita main ayun2an..” dengan senyum lebar kakak senang sekali dan jawab.. ayoo mih..

Sepertinya kita punya feeling yang sama kalau sebentar lagi dede mau datang…

Malam ini saya bisa tidur tenang dan nyaman, hanya sesekali bangun karena kakak minta minum…

Kalau Papi sudah ga bisa tidur 3 harian ini, saya intip..Papi baru bisa tidur nyenyak setelah jam 3 pagi..

9 desember 2011

Pkl 03.30 tiba tiba terbangun entah kenapa, dan langsung ke kamar mandi untuk kencing… Makin terkaget-kaget lihat darah di pembalut makin banyak.. dan wowww… “dia datang” gelombang rahim yang kutunggu-tunggu…

Setelah masih bertanya2 apa ini masih palsu atau sudah saatnya? Karena jujur saja saya masih bisa senyam-senyum, masih ngecek kolam persalinan, masih ngemil cokelat sambil pegang hp karena saya catat tiap berapa menit si gelombang rahim ini datang… Sudah 4 menit sekali dan makin intens saya makin percaya diri… Dede, mami sudah siap.. Ini tgl 9 seperti yang kakak bilang…

Mengisi air kolam, mengecek semua persiapan, lalu membangunkan Mbak Aweng untuk minta dibuatkan mie rebus karena saya harus makan dulu sblm merayakan pesta besar2an menyambut dede sebentar lagi… Sambil menunggu mie matang, saya main bola sambil menjaga Jemima yang masih tidur lelap.

Gelombang rahim mulai menyapa dengan lembut dan ramah sekali.. hehe… Setelah makan setengah mangkok mie rebus+ nasi dan telor, juga minum teh hangat.. Rencana saya mau minta tolong suami untuk mandiin saya…

Saya bangunin papinya Jemima… saya bilang, “Pih… temenin Mami mandi dong,” suami sambil setengah sadar masih bingung. “Mami mau mandi pagi2?” Sambil bingung, dan saya jawab… iyaa dede sebentar lagi lahir.. dan langsung.. haaaapppp….

Papinya Jemima meloncat dari tempat tidurnya sambil tanya lagi, “Beneran mih?”… “Iyaaa.. ayooo temenin Mami mandi dulu sekarang ya..”

Tanpa air hangat.. saya mandi dibantu suami, dan tiba2..gelombang rahim itu datang lagi… Ingin jongkok sekali rasanya… “Sambil ambil nafas, papinya Jemima selalu berkata..”Tenang ya mih, papi disini… mami tenang aja, nafas yang nyaman, makin tenang dan rileks…kita bantu dede ya.. mami hebat, hebat sekali..”

Dan waktu suami membantu membersihkan (maaf) bagian vagina saya yg keluar darah, dia dikejutkan oleh sesuatu yang mirip balon… “Mih… ini apa?? kepala dede? atau apa?? mih kok ada balonnya?”

Saya coba pegang dan… “Puji Tuhan ini selaput ketuban… Berarti pembukaan sudah besar.. Pih, sebentar lagi kita ketemu dede.”… dan langsung saya keringkan tubuh dan berpakaian seadanya…

Bude Yesie sudah standby di luar…

Sambil terus bersandar di pelukan Papinya Jemima… dan bergoyang nyaman… saya masih sempat minta papi bernyanyi Que Sera-Sera..lagu kesukaan saya-papi dan kakak Jemima…papi bernyanyi lembut di telinga saya, walaupun suarannya ga sebagus Delon Indonesia Idol, tapi ini lagu terbagus dan termerdu yang saya pernah dengar….(makasih ya pih..)… sambil terus berusaha tenang dan bernafas lembut…

Pembukaan sepertinya bertambah dengan cepat.

05.30

Mama datang dan memeriksa pembukaan saya.. Katanya sudah 6cm dan sangat tipis…

Setelah itu saya masih minta dipeluk Papinya Jemima, walau kadang minta menungging juga…

06.30

Budeee… saya pengeenn “pooppp”…. saya mau masuk ke kolam… lalu Bude yesie bersama suami saya, membantu saya masuk ke kolam…byurrr….dan langsung ceeeeessssssssssssssssss….. nyamaaannn sekali rasanya….

Dan setelah bude periksa dalam lagi… Bude bilang.. “Tenang rin,,, ini sudah lengkap, yang happy ya.”

Sambil bersyukur di dalam hati, mencoba beri senyuman paling lebar… Saya bilang ayoo dede sayang.. Sebentar lagi kita ketemu… gelombang rahim yg sangat baik membuat saya bolak-balik tersenyum, kadang mengeluarkan suara seperti sapi… (hahahahahha), kadang bikin pengen jongkok… Tiba2 nungging sendiri trus rebahan lagi.. Ternyata itu semua mekanisme tubuh untuk mempermudah bayi saya untuk keluar … Dan disaat2 gelombang rahim datang dengan hebat.. Suami saya mencium saya dengan mesra sekali… endorfin keluar dan nyaman sekali rasanya… Rasanya ingin berulang2 berciuman dikolam.. Tapi ga enak juga yah ama yang nonton… hehehehehehe…

06.56

“Sebentar lagi jam 7… sebentar lagi jam 7… kata kakak angka 7 pasti sebentar lagi lahir… “dalam hati saya, teruslah berjuang mami… sesekali saya mengusap lembut kepala dede yang sudah terlihat besar di bibir vagina saya… saya bilang, Charis sayang… sebentar lagi kita ketemu…

Pkl 06.59 setelah Papa Herry datang, keluarlah Charis dengan posisi terlentang.. Ternyata dia lahir dengan letak puncak kepala yang biasanya bayi dengan letak puncak kepala ini butuh waktu yg lebih lama lagi untuk keluar karen posisinya tidak maksimal… tapi bayi memang luar biasa, charis hanya butuh waktu 1/2 jam saja untuk meluncur dengan mulus di air…. Puji Tuhan…

Setelah itu, Charis langsung mami dekap di dada Mami, ini perayaan besar2-besaran untuk kami berdua setelah sekian lama ingin berduaan berpelukan.. Hari ini kami bisa mewujudkannya…dan saya sangat bersyukur anak saya sehat sempurna…

IMD pun dilakukan sambil Mami pindah ke tempat tidur, adik ari-ari pun keluar dengan mudah.. dan kami (saya dan suami) sudah sepakat untuk memberikan hak yang terbaik untuk anak kami, sehingga kami memilih lotus birth.

Bersyukur asi saya langsung keluar sehingga Charis langsung bisa menyusu sampai puas…

Enam… hari pertama saya mendapat flek..

Tujuh…. jam lahirnya dede.. walau kurang semenit…

Sembilan… tanggal lahir si dede…

Terimakasih Jemima, healer-ku sayang.. kamu memang luar biasa nak…

Terimakasih untuk semua atas doa dan supportnya pada kami sekeluarga ..

Mama-papa (cilacap dan bandung), ayah&bunda juga quinby, bou2 cantik, semua team di klinik, Bude Yesie Aprillia, Mami Lanny Kuswandi, mbak wiji – mbak erma yg sms kasi support…semua yg sudah mendoakan kami….

My love, my boy, my son, my joy always keep your glow
And know that love will be with you wherever you may go
And if something should fall apart somewhere down the line
Just tell me all about it and I will make it fine….

I love u my boy,
Jeremiah Raphael Charis Simbolon

best present for you Love, Dear My Albert Simbolon

Kisah Gentle Birth: Atisha Prajna Tiara

Dewi Lestari (Dee), seorang penulis novel bestseller, penyanyi, dan penulis lagu, berbagi kisah luar biasa tentang persalinan anak keduanya bersama Reza Gunawan, suaminya yang berprofesi sebagai praktisi penyembuhan holistik.

Dari pernikahannya yang pertama, Dee melahirkan putera sulungnya, Keenan Avalokita Kirana (6 thn), melalui operasi Caesar di sebuah rumah sakit di Bandung. Saat hamil puteri keduanya, Atisha Prajna Tiara (9 bulan), Dee dan Reza mendambakan sebuah persalinan alami dengan metode Gentle Birth.Berikut percakapan Liz Sinclair dengan pasangan Dee dan Reza tentang persalinan Atisha yang akhirnya terjadi di rumah mereka sendiri, di dalam air, tanpa didampingi dokter atau bidan, dan bagaimana pengalaman Gentle Birth telah mengubah kehidupan dan hubungan mereka.

LIZ: Bagaimana awalnya kalian bisa mengenal persalinan alami atau metode Gentle Birth ini?

REZA: Saya sudah cukup lama berkecimpung di bidang penyembuhan alamiah hingga akhirnya mendirikan pusat penyembuhan holistik di Jakarta tahun 2003. Sebagian besar pekerjaan saya terkait dengan penyembuhan trauma; bagaimana trauma yang belum tersembuhkan bisa mempengaruhi hidup kita bertahun-tahun ke depan; dan bagaimana setiap pengalaman hidup membentuk masa depan seseorang. Saya juga banyak mendampingi klien yang sedang hamil. Awalnya saya nggak tahu banyak tentang Gentle Birth, saya cuma tahu bagaimana mengajarkan teknik relaksasi dan self healing bagi ibu hamil, hingga akhirnya beberapa tahun lalu saya menonton film dokumenter tentang Gentle Birth yang berjudul “Birth As We Know It”.

Saat itu, kebetulan saya sudah kenal dengan Mira, seorang bidan persalinan alami di Bali, yang sudah puluhan tahun berpengalaman melakukan water birth di berbagai negara di dunia. Saya juga sudah mengenal Yayasan Bumi Sehat, sebuah fasilitas Gentle Birth di Ubud, Bali.

Januari 2009, kami melakukan cek USG untuk memastikan kehamilan Dewi. Selang dua hari, kami berangkat ke Ubud untuk retreat meditasi. Berhubung sudah di Ubud, kami pun mengunjungi Bumi Sehat. Di sana, Dewi memeriksakan kehamilan sambil melihat-lihat fasilitas persalinan. Setelah kembali ke Jakarta, kami jadi bersemangat mempelajari lebih jauh tentang water birth dan Gentle Birth. Kami juga menonton film dokumenter yang dibuat Ricki Lake berjudul “The Business of Being Born”. Film itu banyak membuka mata kami tentang berbagai aspek proses persalinan modern yang selama ini luput dari pengamatan banyak orang.

Kami semakin ingin menjalani proses Gentle Birth, tapi kesulitan mencari fasilitas pendukung di Jakarta. Meskipun setidaknya ada dua tempat di Jakarta yang bisa melakukan water birth, kami merasa fasilitas-fasilitas itu belum bisa memberikan suasana Gentle Birth yang ingin kami alami. Kami menginginkan suasana yang lebih sakral, personal, bahkan kalau bisa di rumah sendiri. Sempat juga kami mempertimbangkan untuk sewa rumah di Ubud, supaya Mira atau bidan Bumi Sehat bisa membantu persalinannya, tetapi setelah kami survei lebih lanjut, kok, ternyata nggak praktis. Kami jadi harus meninggalkan Jakarta terlalu lama. Akhirnya kami terpaksa mencari opsi lain. Di Bumi Sehat kami sempat berkenalan dengan bidan bernama Ibu Budi yang bersedia terbang ke Jakarta untuk membantu persalinan. Kami sempat lega karena minimal sudah punya “pegangan”.

LIZ: Apakah kalian memang menyiapkan diri untuk melakukan persalinan tanpa pendampingan bidan atau dokter?

REZA: Sekitar bulan ke-6, tiba-tiba Ibu Budi kirim SMS, beliau membatalkan kesanggupannya karena ada acara keluarga yang bertepatan dengan perkiraan waktu Dewi melahirkan. Perencanaan kami pun amblas kembali ke titik nol. Anehnya, walaupun saya nggak punya pengalaman sama sekali, saya merasa cukup tenang dan nyaman dengan kemungkinan harus membantu persalinan Dewi sendirian.

Sempat saya membaca buku tipis tentang persalinan darurat, yang biasanya digunakan oleh polisi dan pemadam kebakaran.  Mira juga senantiasa mengingatkan, “Kalau ternyata kamu harus mendampingi Dewi sendiri, ingat bahwa proses ini milik alam.  Yang paling penting, kamu harus hadir penuh perhatian dan menunggu proses itu terjadi dengan sendirinya.”

Setelah saya dan Dewi berpasrah, tiba-tiba pada akhir kehamilan, Mira sendiri menyatakan kesediaannya untuk terbang ke Jakarta pada hari H persalinan. Padahal Mira sudah lama pensiun menjadi bidan. Kesediaan Mira membuat kami berdua jadi lebih tenang.

Sembilan hari sebelum persalinan, kami berdua mengungsi ke rumah orang tua saya. Kami memang merencanakan melahirkan di sana karena fasilitas air panasnya bagus. Sembilan hari pula saya berhenti praktek di klinik. Dan setiap hari, kami selalu bertanya-tanya, “Malam ini bukan, ya?” Lama-lama kegelisahan itu mulai mengganggu. Kami menelepon Mira, dan beliau menasihati, “Ada pepatah dalam Bahasa Inggris: a watched pot never boils.” Artinya, sesuatu kalau terlalu ditunggu-tunggu malah rasanya nggak kejadian-kejadian. Mira menyarankan kami pulang lagi ke rumah sendiri, saya dan Dewi juga disuruh kembali berkegiatan. Eh, besok paginya, tahu-tahu bayi kami lahir.

LIZ: Dee, bisa ceritakan bagaimana persalinan pertama Anda dan bagaimana perbedaannya dengan proses persalinan anak kedua?

DEE: Dulu pemahaman saya tentang kehamilan dan persalinan sangatlah simpel. Sedikit sekali yang saya tahu. Saya cuma berpatokan pada Mama saya almarhum yang melahirkan lima orang anak secara normal, padahal badannya lebih kecil dari saya. Jadi saya selalu merasa pasti bisa seperti Mama. Tahunya, kakak perempuan saya, yang paling pertama kali punya anak di antara kami bersaudara, ternyata harus operasi Caesar. Agaknya itu membuat saya mulai ragu, kok, ternyata nggak semudah yang saya kira. Waktu saya hamil Keenan, saya masih termotivasi untuk melahirkan normal, tapi pengetahuan saya saat itu beda banget kalau dibandingkan sekarang. Hari itu, air ketuban saya pecah subuh-subuh, dan saya langsung pergi ke rumah sakit. Begitu sampai di sana, otomatis kami harus mengikuti prosedur rumah sakit. Pukul 9 pagi, perawat menawarkan induksi. Waktu itu, saya nggak kebayang bagaimana efeknya, jadi saya setujui. Saya pikir itulah yang terbaik dan teraman bagi saya dan bayi.

Kontraksi saya malah semakin kuat dan intens. Sakit sekali. Tapi ternyata bukaan saya belum cukup juga. Selama proses kontraksi, suasana di ruang itu sangat nggak nyaman. Orang-orang datang keluar masuk. Memang banyak teman dan keluarga saya yang hadir, dan bukannya saya nggak bersyukur dengan kehadiran mereka, tapi saya benar-benar nggak mendapatkan privasi. Dan itu ternyata membuat proses persalinan terasa makin sulit.

Pukul 12.30, dokter menawarkan operasi Caesar karena tidak ada bukaan lebih lanjut. Jujur, saat itu saya sudah nggak merasakan lagi koneksi dengan tubuh saya sendiri. Yang saya ingat cuma rasa sakit luar biasa yang penginnya cepat-cepat lewat. Karena sudah nggak kuat menahan nyeri, saya setuju untuk operasi Caesar. Apa pun yang penting sakit itu lewat, pikir saya waktu itu. Bahkan saya minta dibius total. Bangun-bangun, saya sudah menggigil kedinginan di ruang operasi. Baru di kamar, dalam keadaan setengah sadar, saya sempat melihat Keenan sekilas. Lalu saya tertidur lagi, dan Keenan pun dibawa ke ruang bayi.

Rasanya sangat janggal. Ketika saya melihat Keenan, saya tidak merasakan koneksi batin yang kuat dengannya. Saat itu saya nggak tahu bahwa proses kelahiran yang sarat intervensi itu sudah mengacaukan hormon saya yang berfungsi untuk menciptakan bonding dengan bayi. Saya pikir, semua itu wajar.

Pernah satu malam di rumah sakit, payudara saya bengkak karena kepenuhan ASI, dan saya minta tolong perawat untuk membawa Keenan supaya bisa saya susui. Bukannya Keenan yang dibawa, perawat itu malah memberikan botol kosong dan saya disuruh untuk memompa ASI yang katanya nantinya akan diberikan ke Keenan. Saya cuma bisa bengong. Saya belum pernah menyusui sebelumnya, boro-boro tahu cara memompa. Mati-matian saya berusaha memerah dengan tangan dan akhirnya cuma dapat satu sendok teh.

Ketika kami pulang dari rumah sakit, petugas pun memberikan paket susu formula dan bilang “Ini merk susu yang selama ini kami berikan untuk bayi Anda.”  Dan akhirnya saya lanjut memberikan susu formula itu pada Keenan, meski terus diselingi ASI. Saya menyusui Keenan sampai dua setengah tahun, tapi kami tidak pernah mengalami ASI eksklusif karena Keenan sudah diberi formula dari hari pertama dia lahir, tanpa persetujuan saya. Namun, sekali lagi, saya pikir itu wajar, dan semua ibu mengalaminya.

Karena lahir di rumah sakit, dalam 24 jam Keenan juga langsung divaksinasi. Selama masa kecilnya, Keenan sering mengalami reaksi alergi dan kesulitan bernapas. Hingga sekarang gejala itu masih ada, dan pelan-pelan kami mengobatinya memakai terapi homeopati. Berbekal semua pengalaman itu, ketika hamil anak kedua, saya bilang  sama Reza, “Kali ini, saya mau melakukan persalinan yang benar-benar berbeda.”

Waktu persalinan Atisha, sejujurnya saya agak kaget karena ternyata rasa nyerinya tidak sehebat yang saya alami dulu. Barangkali karena saya tidak diinduksi, jadi meski ada rasa nyeri, tetap masih dalam batas yang bisa saya tahan. Dan karena saya melahirkan di rumah, saya bisa berekspresi penuh. Nggak ada ketegangan karena infus, orang hilir mudik, dan intervensi ini-itu. Saya bisa jongkok, nungging, teriak, membenamkan kepala di bantal, pokoknya gaya apa pun yang saya mau. Saya juga sudah sepakat sama Reza, kalau saat persalinan kami nggak mau ada orang lain di kamar. Hanya saya berdua dengan Reza. Saya ingin bebas menjadi diri sendiri, mengalami proses melahirkan dengan sepenuh-penuhnya tanpa perlu menahan diri.

LIZ: Saat melahirkan Keenan di rumah sakit, apakah kamu merasa ada tekanan untuk diam dan nggak menjadi diri sendiri?

DEE: Waktu itu saya ditempatkan di ranjang, jadi saya harus menahan semua rasa nyeri dalam posisi statis. Apalagi sesudah diinduksi di lengan saya ada jarum infus, jadi saya makin nggak bisa bergerak. Saya juga merasa nggak bebas berekspresi karena banyak orang di sekeliling saya. Mereka nggak secara langsung menahan atau menyuruh saya diam, tapi akhirnya terkondisikan untuk demikian.

LIZ: Dan saat melahirkan Atisha, kamu merasa bisa berekspresi sepenuhnya?

DEE: Ya, saya bahkan bisa berfungsi normal seperti biasa, malah sempat buang air kecil di tengah-tengah kontraksi. Saya bisa jalan sendiri ke toilet.

LIZ: Apa yang kira-kira memicu perubahan persepsi Anda tentang persalinan?

DEE: Jauh sebelum hamil, kami memutar video dokumenter “Birth As We Know It” untuk pertama kalinya, dan saya cuma sanggup menonton lima menit. Di video itu, baru kali itulah saya menyaksikan seorang perempuan melahirkan dengan alami. Saya nggak sanggup melanjutkan. Saya cuma menangis tersedu-sedu. Saat itu, saya baru menyadari trauma yang selama ini saya simpan.

REZA: Adegannya itu tentang perempuan yang melahirkan di tengah danau. Dia jongkok dan bayinya keluar begitu saja di dalam air.

DEE: Dipandu oleh Reza, saat itu juga kami melakukan proses penyembuhan trauma. Setelah itu, saya baru berani melanjutkan menonton. Begitu banyak perasaan yang bermunculan. Saya nggak sadar bahwa ternyata saya menyimpan kekecewaan pada diri sendiri karena tidak bisa memberikan persalinan yang saya inginkan, dan yang paling utama adalah: saya merasa bersalah pada Keenan. Ia lahir tanpa merasakan pelukan ibunya terlebih dulu, tanpa mengalami proses menyusui yang seharusnya menjadi insting setiap bayi.

Saya ingat, pada malam yang sama, Keenan sedang batuk cukup parah. Keesokan harinya, setelah trauma saya sudah dibersihkan, seketika batuknya sembuh begitu saja tanpa diobati. Saya nggak menyangka betapa eratnya koneksi energi antara saya dan Keenan. Antara seorang ibu dan anak. Pengalaman itu seperti “membangunkan” saya. Pemahaman dan pendekatan saya tentang kehamilan dan persalinan berubah total.

LIZ: Bagaimana dengan persiapan selama kehamilan, apakah ada yang khusus atau yang berbeda dibandingkan dengan apa yang Dee jalankan dulu saat hamil pertama kali?

REZA: Proses kehamilan ini seluruhnya berjalan alami.  Kami berdua tekun berlatih meditasi dan self healing. Dewi juga rajin berlatih Tai Chi untuk ibu hamil.  Kalau diperlukan, kadang saya membuatkan racikan air bunga (Bach Flower Remedies) untuk Dewi, yang berguna untuk penyembuhan dan penyeimbangan mental. Kalau ada masalah selama kehamilan, kami hanya menelepon para bidan di Bali untuk konsultasi.  Biasanya, kami dapat saran sederhana dari Mira seperti “Istirahat saja yang cukup, ya. Nggak usah khawatir, percaya sama alam.” Kami hanya ke dokter sebanyak 2 kali, pertama di awal kehamilan dan sekali lagi di minggu ke-37 untuk USG.

DEE: Pada kehamilan kedua, saya nggak minum obat apa pun, hanya multivitamin organik khusus untuk kehamilan, Bach Flower Remedies, tai chi, meditasi, Jin Shin Jyutsu (terapi dari Jepang yang menggunakan sentuhan ringan, semacam akupunktur tanpa jarum – RED), dan latihan self healing. Meski sempat mengalami mual-mual dan gatal hamil (prurigo), saya bertahan dengan penyembuhan alamiah. Dan semua itu memang akhirnya lewat dengan sendirinya. Pernah juga dua kali saya pendarahan ringan, saya berusaha nggak panik dan hanya istirahat total. Kalau di kehamilan pertama, hal-hal seperti itu sudah langsung membuat saya daftar opname ke rumah sakit.

LIZ: Apakah Anda pernah merasa ragu untuk menjalankan persalinan Gentle Birth?

DEE: Tentu saja saya pernah dihinggapi keraguan. Bisa nggak ya saya mengalami persalinan alami? Kedua kakak perempuan saya melahirkan dengan operasi Caesar. Salah satu bahkan bilang, “Sekali Caesar, kamu harus Caesar lagi supaya aman. Udah, terima nasib aja.” Tapi, sekarang saya sudah banyak riset dan membaca. Meski anggapan semacam itu populer, tapi saya tahu itu nggak sepenuhnya benar. Sebaliknya, dengan jarak persalinan yang cukup, kehamilan yang nggak bermasalah, saya malah merasa lebih aman untuk melahirkan secara alami ketimbang harus Caesar lagi.

LIZ: Lalu bagaimana akhirnya proses persalinan Atisha, bisa diceritakan?

REZA: Dewi mulai kontraksi pukul 4.30 pagi. Tapi karena selama dua minggu terakhir dia sering mengalami Braxton Hicks (kontraksi palsu – RED), kami memutuskan untuk menunggu sejam sebelum akhirnya menelepon Mira. Pukul 6.30 WITA, Mira mulai bersiap berangkat dari rumahnya. Setiap puncak kontraksi, saya berikan akupresur untuk meringankan nyerinya Dewi. Di sekian menit antar kontraksi, saya melakukan segala persiapan, dari mulai mengurus tiket Mira ke travel agent, memompa kolam untuk melahirkan, mengisi air, dan seterusnya. Pokoknya saya mondar-mandir terus. Sayang, Mira nggak berhasil kebagian pesawat yang paling pagi, dan baru dapat pesawat yang pukul 11.30.

DEE: Ketika dikasih tahu Mira nggak berhasil berangkat dengan pesawat pagi, saya pun tahu kami akan menjalankan persalinan itu sendiri. Sebagai rencana darurat, kami memang terdaftar di rumah sakit yang cuma lima menit dari rumah. Tapi  kontraksi saya sudah sangat kuat dan jaraknya sudah pendek-pendek. Saya nggak punya waktu untuk berpikir ini-itu. Saya bahkan nggak punya waktu untuk merasa takut. Satu yang saya ingat, Mira selalu mengajarkan untuk jangan mengejan, biarkan bayi keluar dengan sendirinya.

Tepat pukul 9, nyeri kontraksi mendadak hilang, bergeser menjadi sensasi lain. Seolah di dalam tubuh saya ada yang ingin mendorong keluar. Saya ingat, ketika saya lagi jalan di pinggir kolam, tiba-tiba saja lutut saya menekuk seperti mau jongkok. Saya langsung  bilang ke Reza, “OK, kita harus masuk ke kolam. Sekarang.” Benar-benar instingtif.

Ketika berada dalam air, sensasi mendorong itu nggak terasa menyakitkan. Rasanya lebih seperti tubuh saya merekah terbuka, seperti bunga mau mekar. Spontan dan nggak bisa ditahan, saya pun membuat bebunyian, seperti teriakan, tapi bunyinya beda. Suara saya mirip lenguhan sapi, pokoknya kayak binatang. Sangat… primal.

Rasanya saya kebelah jadi dua: Dewi yang berpikir dan Dewi yang melakukan persalinan. Sisi saya yang berpikir sibuk komentar: “Ini kok nggak kayak suara kamu, sih,”; “Ini kok rasanya gini, sih,” dsb, dsb. Sementara sisi yang satunya lagi begitu tenang, pasrah, mengalir bersama proses persalinan. Ketika Atisha keluar, saya kaget sendiri. Lho, kok udah selesai lagi?

REZA: 30 menit dari kami masuk kolam, Atisha meluncur keluar, mendarat di tangan saya, dan saya langsung berikan ke Dewi.

DEE: Dari tangan Reza, saya mengambil Atisha, memeluknya di dada. Setengah jam kemudian Atisha sudah menyusui. Ajaib sekali rasanya seluruh perjalanan itu: dari pengalaman persalinan di meja operasi hingga akhirnya mengalami persalinan spontan, natural, di rumah, di dalam air. Atisha bahkan ditangkap oleh tangan ayahnya sendiri. Mimpi besar kami jadi kenyataan.

REZA: Persalinan Atisha terjadi begitu indah sekaligus alamiah. Kami nggak merasa kehidupan normal kami terinterupsi karena harus melakukan perjalanan ke rumah sakit, harus menginap di tempat asing, dst. Proses hadirnya Atisha terasa seperti bagian dari kehidupan kami sehari-hari.

DEE: Oh ya, di balik pintu kamar, sebetulnya ada adiknya Reza, Sharena, yang berjaga-jaga kalau kami butuh air panas, handuk, dsb. Sementara orang tua Reza dan Keenan menunggu di ruangan lain. Ketika kami sudah masuk kolam, Reza sudah nggak kepikir untuk merekam video. Nggak mungkin kan dia menangkap bayi sambil pegang handycam. Di tengah kontraksi, tiba-tiba saja saya terpikir untuk mengajak Sharena masuk dan mengambil video. Jadi, pada saat Atisha lahir, akhirnya ada tiga orang di kamar. Dan kami bersyukur sekali karena kami jadi punya dokumentasi.

LIZ: Bagaimana suasana di rumah saat itu?

REZA: Februari 2010 lalu, saya mengikuti workshop di Singapura bersama Elena Tonetti-Vladimirova, pembuat film dokumenter “Birth as We Know It”. Elena menjelaskan konsep “medan energi persalinan”. Ketika seorang perempuan berproses untuk melahirkan, ada semacam medan energi yang mengelilinginya, dan semua orang yang berada di dalam medan energi tersebut akan terpengaruh, seolah masuk ke dalam kesadaran yang berbeda.

Saya rasa medan energi ini lebih mungkin terasa ketika persalinan terjadi di rumah dibanding di rumah sakit. Saya sendiri merasakan bagaimana seisi rumah orang tua saya waktu itu seperti masuk ke frekuensi kesadaran yang lain. Adik saya nggak biasanya setenang itu. Saya sendiri merasa seperti punya kesadaran dan energi seorang bidan. Saya menjalani proses persalinan dengan begitu tenang dan sabar. Setelah selesai, barulah meledak kebahagiaan yang meluap-luap, sampai saya nggak berhenti-berhenti keluar air mata. Dewi juga mengalami hal yang sama. Bisa merasakan energi sekuat itu, dan bagaimana satu rumah bisa ikut bertransformasi, benar-benar pengalaman yang luar biasa.

LIZ: Seperti tercipta ruang sakral…

REZA: Ya, dan ruang sakral itu mampu menggeser frekuensi batin dan perilaku kita sehari-hari. Benar-benar kuat pengaruhnya. Menakjubkan.

LIZ: Di praktek persalinan zaman Mesir kuno, perempuan-perempuan biasanya memakai kursi jongkok berkaki rendah dengan lubang di tengahnya. Saat itu, posisi jongkok lazim dilakukan untuk persalinan.

DEE: Saya pernah lihat instruktur senam hamil di rumah sakit menjelaskan posisi-posisi perempuan melahirkan dari zaman ke zaman, salah satunya ada ilustrasi perempuan yang melahirkan sambil jongkok. Waktu itu saya nyeletuk dalam hati, “Aduh, primitif banget. Gimana bisa perempuan melahirkan kayak begitu?” Yang saya tahu, semua perempuan modern melahirkan dalam posisi berbaring dengan kaki diangkat ke atas. Tapi ternyata, waktu proses persalinan Atisha, saya mengalami sendiri bagaimana lutut saya spontan menekuk. Dorongan itu rasanya begitu natural. Saya jadi berpikir, barangkali memang sudah sedemikian jauhnya praktek persalinan modern dengan proses yang alami.

REZA: Dari riset, kami sempat tahu juga bahwa posisi bersalin sambil berbaring itu baru diterapkan ketika persalinan mulai bergeser dari rumah tinggal ke rumah sakit di mana para bidan tidak lagi diikutsertakan. Para dokter obstetri saat itu tidak merasa nyaman untuk jongkok dan menangkap bayi di bawah, jadi para perempuan akhirnya diminta untuk berbaring dan mengangkat kaki. Banyak sekali hal mengejutkan yang kami dapati selama riset tentang persalinan, terutama mengenai betapa jauhnya persalinan alamiah dengan persalinan modern yang kita kenal sekarang.

Seorang teman saya melakukan penelitian di Papua. Dia menemukan sebagian suku di sana ternyata melakukan water birth. Ibu yang sudah siap melahirkan akan pergi ke danau dengan perahu kecil, ditemani anak lelakinya. Ketika si ibu merasa kontraksinya sudah kuat dan bukaannya cukup, dia akan turun ke air sambil berpegangan pada perahu, lalu anak lelakinya menyelam untuk menangkap adiknya yang keluar di dalam air. Luar biasa, kan?

LIZ:  Sangat luar biasa. Manfaat atau berkah apa saja yang sudah kalian rasakan dari pengalaman persalinan alami ini?

REZA: Dewi nggak mengalami sobekan. Jadi nggak ada yang perlu dijahit. Untuk pemulihan, Dewi hanya minum obat homeopati.

DEE: Atisha juga tidak divaksinasi, dan belum pernah diberi obat kimia apapun sejak lahir. Sejauh yang saya amati, kesehatan dan daya tahan tubuhnya jauh berbeda dengan Keenan.

REZA: Kami mempraktekkan co-sleeping dengan Atisha, yakni tidur di ranjang yang sama. Atisha pun tidur dengan baik sejak hari pertama. Kami sama sekali nggak kurang tidur karena tak harus bangun setiap sekian jam sebagaimana yang umumnya terjadi.

DEE: Sejak lahir, Atisha belum pernah berpisah dari saya. Saya memutuskan untuk merawat dia sepenuhnya dan menggeser pekerjaan saya jadi prioritas ke-5, bahkan ke-10 kalau perlu.  Saya nggak merasa kehilangan apa pun. Mengasuh dia sudah membuat saya merasa tercukupi setiap harinya. Dulu, saya nggak seperti itu. Dulu, saya kehilangan sekali sisi Dewi yang bekerja, yang berkarier, dan pengin cepat-cepat kembali aktif seperti sebelum punya anak. Sekarang, setelah Atisha lahir, saya malah merasa lebih utuh. Rasanya peran ibu dan istri benar-benar menyatu dengan diri saya secara keseluruhan.

LIZ: Bagaimana Gentle Birth mempengaruhi hubungan kalian berdua?

REZA: Ketika saya mengawali hubungan dengan Dewi, dia sudah punya seorang anak. Saya mengamati Dewi dari berbagai sisi: sebagai dirinya sendiri, sebagai seorang pasangan, dan sebagai ibu bagi Keenan. Saya merasa kelahiran Atisha telah membuat semua sisi Dewi tadi semakin terintegrasi. Saya menyaksikan Dewi berkembang penuh dan utuh ke dalam peran seorang ibu. Berbeda sekali dibandingkan sebelumnya. Bukan berarti selama ini cintanya pada Keenan ada yang kurang, tapi saya merasa ada sosok ibu yang tidak berkesempatan mekar secara penuh saat persalinan yang pertama.

Sekarang, Dewi punya koneksi yang lebih baik dengan tubuhnya sendiri, lebih grounded. Ketika dia berinteraksi dengan saya, saya merasa dia lebih jujur tentang dirinya, kebutuhannya, dan intuisinya.

Kalau dibandingkan antara sebelum hamil dan masa sekarang, saya nggak merasa kekurangan apa pun dalam hubungan kami, baik keintiman fisik maupun emosional.

DEE: Waktu kami baru menikah, saya sempat memperingatkan Reza, “Kalau nanti kita punya anak, semua bakal berubah. Siap-siap aja. Saya udah pernah ngalamin.” Saya juga sudah siap-siap akan “kehilangan” diri saya selama minimal dua tahun, individualitas saya, karier saya, semua bakal berubah lagi. Tapi ternyata enggak. Justru kehadiran anak kedua ini menambah kualitas hubungan kami, bukannya mengurangi. Sejak hari pertama, saya menyaksikan keterlibatan Reza yang begitu penuh dengan Atisha. Sekarang Atisha sudah hampir 10 bulan, dan sampai hari ini Reza masih berkaca-kaca setiap kali Atisha bikin sesuatu yang lucu atau ngegemesin. Kadang-kadang, dia malah lebih keibuan dari saya, ha-ha-ha…

REZA: Cuma melihat Dewi bersama Atisha saja, saya sering tiba-tiba menangis terharu. Waktu saya mengedit video kelahiran Atisha selama tiga malam, tiga malam juga saya berlinangan air mata. Dalam pengamatan saya, Atisha itu bayi yang penuh kesadaran. Ada yang istimewa pada Atisha dan bagaimana ia menjalin konektivitas dengan Dewi, saya, Keenan. Kehadirannya membuat keluarga kami menjadi semakin erat dan hangat. Kebahagiaan seperti terus-terusan mengalir setiap hari. Saya merasa sangat penuh.

DEE: Saya jadi bertanya-tanya, apakah mungkin salah satu faktor mengapa banyak pasangan mengalami rasa keterpisahan pasca persalinan adalah karena pengalaman persalinan yang tidak utuh? Begitu juga dengan baby blues, yang katanya normal terjadi. Memang betul saya merasa adanya perubahan hormon sekian hari setelah melahirkan, dan memang terasa pengaruhnya pada mood, fisik, dan emosi. Tapi rasanya nggak ada yang ekstrem. Saya hanya menyadari dan memperhatikan bahwa ada perubahan saja. Bukan sesuatu yang jadi membebani.

REZA: Fenomena lain yang biasanya terjadi setelah anak lahir adalah munculnya jarak antara suami dan istri. Saya sering mengamati hal itu terjadi pada klien dan juga teman-teman sendiri. Biasanya suami merasa tersisih karena perhatian sang istri tercurah penuh pada anaknya. Saya nggak mengalami itu. Saya sama sekali nggak keberatan kalau Dewi memberikan seluruh perhatiannya untuk mengasuh anak.

Malah, saya merasa berat kalau meninggalkan rumah. Bahkan sebulan setelah persalinan, saya masih sulit kembali bekerja. Sampai sekarang pun, setiap saya berangkat ke klinik, wajah Atisha selalu terbayang-bayang. Bagi saya, menangkap anak sendiri dan memberikannya langsung pada sang ibu adalah pengalaman yang penuh keajaiban. Kelahiran Atisha ikut melahirkan “ayah” dalam diri saya. Andaikan semua ayah merasakan keajaiban ini, barangkali tidak perlu ada suami yang merasa tersisih oleh kehadiran anaknya.

LIZ: Setelah mengalami semua yang kalian ceritakan, apa yang ingin kalian sampaikan bagi mereka yang mempertimbangkan untuk menjalankan Gentle Birth?

REZA: Selama enam tahun terakhir, saya mengajar kelas self healing. Dan setiap ada ibu hamil yang datang ke klinik, saya selalu rekomendasikan untuk belajar self healing. Saya juga sedang membuat program lanjutan dari kelas self healing yang dikhususkan untuk kehamilan dan persalinan. Saya sih nggak mungkin menjadi bidan, tapi rasanya saya masih bisa memberikan kontribusi bagi berkembangnya Gentle Birth melalui kisah persalinan Atisha serta menyajikan berbagai keterampilan self healing bagi ibu hamil dan menyusui.

Setelah Atisha lahir, saya punya beberapa klien yang mengalami persalinan Gentle Birth dengan cukup baik. Jadi, meski perlahan-lahan, saya perhatikan kesadaran itu mulai muncul. Saya akan selalu mendukung siapa pun yang mempertimbangkan Gentle Birth. Bila waktu hari H ternyata pelaksanaannya berbeda, atau Gentle Birth hanya dipraktekkan secara parsial saja; seperti menunda pemotongan tali pusat, atau menunggu di rumah lebih lama sebelum berangkat ke rumah sakit, atau mengurangi jumlah USG yang tidak perlu selama masa hamil, atau tekun berlatih self healing selama hamil dan bersalin, itupun sudah cukup membantu menciptakan pengalaman melahirkan yang lebih baik.

Secara statistik, komplikasi persalinan yang membutuhkan intervensi medis sebenarnya hanya terjadi di 5% persalinan. Di tempat seperti Bumi Sehat, bahkan hanya sekitar 4-5% klien yang harus ditransfer ke rumah sakit untuk operasi Caesar. Angka itu sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata fasilitas persalinan modern di Indonesia.

Jujur, saat ini saya merasa situasi persalinan secara umum di Indonesia cukup menyedihkan. D Jakarta juga belum ada cukup informasi maupun layanan yang mendukung Gentle Birth. Kami terus berdoa semoga suatu hari fasilitas Gentle Birth bisa ada di Jakarta. Apalagi selalu ada kecenderungan perilaku di daerah lain untuk mengikuti tren yang di Jakarta.

Gentle Birth adalah perjalanan panjang yang saling berkaitan; dimulai dengan seks yang sadar dan sakral (sacred sexuality), kehamilan alami, persalinan yang ramah jiwa, hingga mengasuh anak dengan penuh kesadaran. Tidaklah cukup untuk sekadar menekankan pada proses lahir di hari H saja. Dalam praktek saya, bahkan jauh sebelum lahirnya Atisha, saya sudah sering melihat betapa kualitas kehamilan dan persalinan bisa mempengaruhi perilaku dan tingkat kekerasan seseorang saat ia beranjak dewasa. Sementara, kita lihat sendiri betapa memprihatinkannya problem perilaku dan tingkat kekerasan yang terjadi di dunia saat ini.

Bagi saya pribadi, Gentle Birth adalah pendekatan yang perlu kita kenal dan coba jalani.

LIZ: Apa kira-kira yang paling penting untuk dipahami oleh calon ibu dan ayah mengenai Gentle Birth ini?

REZA: Yang sering kita tidak disadari adalah, momen persalinan bisa memicu trauma saat kita sendiri dilahirkan dulu. Kalau trauma itu tidak dibersihkan, efeknya bisa macam-macam, dari mulai komplikasi, baby blues, sampai disintegrasi hubungan suami-istri. Sebaliknya, jika sempat dilakukan pembersihan trauma, persalinan bisa menjadi gerbang transformasi dan penyembuhan, bukan hanya bagi ibu, tapi siapa pun yang terlibat, termasuk suami/ayah. Proses kehamilan Atisha telah mendorong kami menghadapi segala hal dalam diri kami yang perlu disembuhkan. Sebagai seorang terapis, saya sudah terbiasa menyaksikan keajaiban. Namun keajaiban saat melahirkan benar-benar nggak ada bandingannya.

DEE: Kalau saya perhatikan, saat ini pendekatan persalinan yang populer cenderung fokus pada bagaimana membuat ibu lebih nyaman secara fisik saat bersalin. Jadi hanya sekadar mengurangi rasa sakit saja. Tapi, pengalaman bayi itu sendiri saat dilahirkan, kebutuhan utamanya, seperti terlupakan. Bahkan diabaikan. Seolah-olah bayi dianggap nggak bisa merasa atau merekam pengalamannya saat lahir. Selama bayi bernapas, selamat, dan kelihatan tubuhnya fungsional, dianggap sudah cukup. Belum ada respek dan pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bayi butuhkan.

Bagi saya, Gentle Birth adalah hadiah bagi Atisha. Fokusnya bukan pada saya, atau Reza, atau bidan, melainkan pada Atisha. Gentle Birth dengan pendekatannya yang ramah jiwa dan minim trauma akan mempengaruhi kualitas sepanjang hidup bayi. Nggak ada kebisingan, lampu menyilaukan, tempat yang asing dan dingin, ditangani orang-orang yang tidak ia kenal. Tidak ada pemisahan dengan ibu. Atisha langsung disusui sesuai dengan insting naluriahnya. Dan saat persalinan, yang kami dengarkan dan turuti adalah isyarat kesiapan si bayi di perut, bukan semata-mata apa yang saya mau, bukan mengikuti aba-aba dokter atau orang luar. Inilah pemahaman yang ingin saya bagikan bagi para calon ibu. Sadari pentingnya kebutuhan dan kualitas pengalaman bayi saat dilahirkan. Melahirkan adalah persembahan bagi bayi Anda.

Bukan cuma perkara mengurangi rasa nyeri atau mencari kenyamanan ekstra.

Ketika saya dibius saat persalinan Keenan, tentu itu lebih “nyaman” karena saya nggak merasakan nyeri, saya tinggal berbaring dan seseorang mengambil bayi keluar dari tubuh saya. Tapi apa yang seharusnya menjadi hak bayi, haknya untuk langsung disusui dan didekap oleh ibunya, haknya untuk mengalami masa transisi yang tenang dan damai, tidak ia dapatkan.

LIZ: Jadi, maksud Anda, nyeri sebenarnya adalah bagian integral dari pengalaman persalinan, dan jika kita cuma fokus pada menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, kita malah mengacaukan spektrum proses persalinan yang utuh?

DEE: Orang masa kini sudah jarang sekali melihat proses persalinan secara langsung, kecuali mereka yang memang kerjanya di klinik bersalin. Jadi apa yang kita tahu tentang persalinan biasanya hanya dari film, teve, dsb. Umumnya persalinan digambarkan sebagai peristiwa yang menyeramkan, penuh kesakitan, histeris, orang-orang panik, dsb. Jarang sekali kita melihat gambaran persalinan sebagai sesuatu yang indah, yang sakral, yang damai. Akhirnya kita selalu punya gambaran bahwa melahirkan itu mengerikan dan berbahaya. Kalau kita bisa mengubah persepsi tersebut, perempuan akan lebih mampu bersentuhan dengan energi femininnya yang sejati, menggunakan kearifan dalam tubuhnya yang sudah tahu bagaimana melahirkan secara alami.

Saya dan Reza bahkan pernah menonton dokumenter perempuan yang mengalami persalinan orgasmik. Banyak yang nggak tahu bahwa persalinan sebetulnya bisa menjadi puncak pengalaman seksual seorang perempuan. Tapi, lagi-lagi, kita hanya fokus pada risiko dan rasa sakitnya saja.

LIZ: Bisa dibilang, persiapan mental dan emosional merupakan salah satu langkah penting dalam Gentle Birth?

REZA: Di film “Birth As We Know It,” Elena belajar pada Igor Charkovsky, seorang perintis water birth di Rusia. Charkovsky bukan seorang bidan, profesinya aslinya adalah seorang penyembuh atau healer. Pada awal eksperimennya, Charkovsky melakukan proses penyembuhan energi bagi para ibu hamil. Dia membersihkan segala trauma dalam hidup ibu hamil tersebut, dari mulai trauma cinta, seksual, maupun kelahiran. Ternyata para ibu hamil itu mengalami persalinan yang lebih lancar, minim trauma maupun komplikasi. Dari sanalah Charkovsky mengemukakan prinsip bahwa komplikasi persalinan di hari H berbanding lurus dengan jumlah trauma kehidupan yang belum sembuh. Selama Dewi hamil, kami sering berlatih bersama, menyembuhkan trauma saya maupun Dewi, dan akhirnya kami mengalami proses persalinan yang indah dan relatif lancar. Jadi kami sendiri mengalami langsung apa yang Charkovsky bilang.

Menurut saya, proses persiapan Gentle Birth harus meliputi perjalanan pembersihan diri, agar semua bagian dalam diri kita yang sebelumnya kita tunda, tolak dan hindari, bisa dihadapi dan disembuhkan. Saya rasa aspek ini belum mendapatkan penekanan yang cukup dalam pendekatan persalinan saat ini. Sebagai contoh, praktek hypnobirthing juga menekankan pada relaksasi, komunikasi dengan janin, serta penggunaan sugesti untuk mengendalikan nyeri. Tapi belum menyentuh lapisan yang lebih dalam.

Saya merasa perempuan perlu lebih menyadari bahwa proses hamil sembilan bulan itu bagaikan masuk ke lajur cepat pertumbuhan kesadaran dan pencerahan batin. Bila ini dipahami dan dijalankan, maka di hari H persalinan, mereka lebih bisa mendengar intuisi tubuhnya, berserah dan mengizinkan proses alam, bagaimana pun itu.

LIZ: Sejalan juga dengan analogi bahwa bagaimana kita mati ditentukan oleh bagaimana kita hidup.

REZA: Tepat sekali. Pada hari kelahiran, konon terbukalah portal semesta yang menjembatani hidup dan mati. Ada pepatah lama juga yang bilang: sesaat sebelum ajal, seluruh perjalanan hidup kita berkelebat sekedip mata. Pada momen itu apa yang muncul biasanya adalah pengalaman hidup yang belum tuntas atau belum sembuh, karena itulah dia muncul, agar kita punya kesempatan untuk menyadarinya sebelum proses ajal bisa sempurna. Perempuan lebih beruntung dalam hal ini, karena mereka bisa mengalami terbukanya portal itu berkali-kali melalui pengalaman persalinan.

LIZ: Seperti yang tadi diceritakan, di kebanyakan fasilitas medis konvensional, tidak ada cukup ruang yang mengizinkan Anda untuk percaya pada kemampuan tubuh Anda sendiri. Anda tidak diberikan cukup waktu. Anda juga tidak leluasa bergerak.

REZA: Yang cenderung terjadi adalah putusnya hubungan antara ibu dengan inteligensi tubuhnya sendiri. Banyak orang yang setelah tahu proses persalinan Atisha lantas berkomentar, “Terang aja, kan suaminya Dewi terapis, makanya dia bisa melakukan itu. Kalau suami lain sih pasti nggak mampu.” Padahal, kenyataannya, saya hanya mengikuti aba-aba dari Dewi. Dan Dewi mengikuti aba-aba dari intuisi dalam tubuhnya, yang juga bersumber dari sang bayi. Intuisi itulah yang membimbing kami. Saya sendiri nggak pernah menduga kalau saya bakal sendirian mendampingi persalinan Dewi. Nggak ada keterampilan khusus yang saya punya untuk itu, kami hanya terus berserah dan mengalir dengan “bimbingan intuitif” tadi.

DEE: Kalau saya ingat kembali, saya merasa nggak melakukan apa-apa. Persis seperti apa kata Mira, nggak usah memaksakan mengejan. Bayi dan tubuh saya bekerja sama untuk mendorongnya keluar. Saya hanya mengizinkan dan memberinya ruang. Mengizinkan adalah kuncinya. Bukan saya harus melakukan sesuatu, atau Reza harus punya keterampilan khusus.

REZA: Kami cuma duduk dalam kolam, bernapas bersama, kadang tersenyum, bahkan sempat bercanda, berpegangan tangan, dan akhirnya menangkap bayi. Kalaupun dianggap ada keterampilan khusus, ya cuma di bagian menangkap bayi dalam air aja, ha-ha-ha… secara umum, semua orang bisa kok.

LIZ: Jadi, menurut Anda, ada mispersepsi besar tentang persalinan di masyarakat modern sekarang ini?

REZA: Beberapa minggu lalu, saya menjadi salah satu di antara lima pembicara di sebuah seminar untuk ibu hamil. Ada dokter, ahli nutrisi, psikolog, pakar perencanaan keuangan, dan saya sendiri. Si dokter sempat menyatakan di depan 500 peserta, bahwa melahirkan adalah peristiwa yang berbahaya. Dia memberikan contoh: per harinya, jumlah orang yang meninggal saat persalinan lebih banyak daripada yang meninggal akibat perang Irak. Untungnya saya kebagian berbicara terakhir, dan dokter itu pulang duluan. Jadi saya sempat “mengoreksi” opini itu ke para peserta, saya bilang: “Itu analogi yang nggak pas nalarnya. Jumlah orang yang terlibat di perang Irak jelas jauh lebih kecil dari jumlah ibu hamil di dunia. Jadi, jangan dianggap perbandingan yang seimbang.”

Peristiwa itu adalah contoh betapa memprihatinkannya situasi saat ini. Banyak orang, bahkan pakar medis sekalipun, terkadang secara tidak sadar memperburuk persepsi persalinan bagi calon ibu. Tentu saja, risiko komplikasi persalinan itu ada, dan ada kehamilan berisiko tinggi yang perlu ditangani dengan hati-hati. Tapi, seringnya, karena mispersepsilah calon ibu jadi banyak rasa takut dan akhirnya kehilangan kemampuan kodratinya untuk melahirkan dengan alami.

DEE: Dan karena ketakutan itu juga, para calon ibu secara tidak sadar menyerahkan kekuatan dan otonomi atas tubuhnya kepada pihak lain, yang dianggap lebih tahu.

LIZ: Rumah sakit cenderung dirancang untuk bertindak, untuk melakukan “sesuatu”. Dan ini bukanlah lingkungan yang kondusif untuk Gentle Birth, karena Gentle Birth justru mensyaratkan kepasrahan, keberserahan pada proses alam.

DEE: Rumah sakit memang tempat untuk memberi tindakan. Memang itu sudah fitrahnya. Mau nggak mau, persalinan di rumah sakit pun akhirnya tidak lepas dari modus intervensi.  Saya merasa praktek persalinan umum yang banyak terjadi di rumah sakit itu sangat tunduk dan dibatasi oleh waktu. Di persalinan Keenan, misalnya, saya datang subuh, dan setelah sekian jam, bukaan dianggap belum cukup, protokol berikutnya adalah induksi, setelah sekian jam lewat, protokol berikutnya sudah menanti, entah itu induksi lagi, epidural, Caesar, dsb. Dan yang saya tahu, mayoritas persalinan di rumah sakit harus terjadi setidaknya dalam 24 jam. Sementara yang saya dengar dari Mira, cukup banyak perempuan mengalami tahap pertama persalinan antara 1 sampai 3 hari. Melahirkan bayi dengan batasan 24 jam sesungguhnya nggak bisa disamaratakan untuk semua perempuan.

REZA: Yang juga kami dengar, saat ini di Indonesia, jumlah orang yang butuh fasilitas persalinan jauh lebih banyak dibanding ketersediaan jumlah fasilitasnya. Jadi begitu seorang calon ibu masuk ke rumah sakit, ada semacam kebutuhan untuk segera menuntaskan persalinan, supaya calon ibu berikutnya bisa dilayani. Terkadang kebutuhan ini membuat terjadinya intervensi yang nggak alamiah untuk mempercepat proses. Orang-orang sekarang berlomba untuk mendapatkan fasilitas persalinan yang terbaik. Padahal, persalinan di rumah sakit modern dengan teknologi serba canggih dan mahal belum tentu tepat dengan kebutuhan lahir batin ibu dan bayi secara alami.

LIZ: Apakah ada penyesalan tentang pengalaman kehamilan sebelumnya?

DEE: Kalau saya boleh mengulangi kembali hidup saya, saya akan tetap menjalani kedua persalinan saya sebagaimana adanya. Melahirkan Keenan dengan cara yang sangat berbeda membuat saya paham betul perbedaan antara kedua persalinan itu. Dan itu memudahkan saya berbagi dengan perempuan lain. Seandainya kedua anak saya lahir spontan alami, saya nggak yakin bisa berempati dan berbagi banyak tentang pengalaman lahir melalui operasi Caesar di rumah sakit. Sekarang saya bisa berbagi dari kedua perspektif. Untuk itu, saya sangat bersyukur.

LIZ: Apakah kalian berencana untuk punya anak lagi?

REZA: Saat ini, enggak. Kita juga tidak merencanakannya. Sekarang rasanya lebih baik merawat dan mengasuh kedua anak kami dengan optimal, ketimbang menambah anak lagi. Saya hanya berharap semakin banyak yang sadar tentang pentingnya Gentle Birth, dan semoga semakin banyak orang tua dan bayi yang memperoleh manfaat dari pengalaman itu

Sumber: situs Gentle Birth Indonesia – http://gentlebirthindonesia.com

Wawancara oleh: Liz Sinclair