Kisah Kelahiran Joserizal Zam Zam

Hari gini lairan di rumah? Kayak nggak ada rumah sakit aja, Jeng??, komentar teman, sambil tertawa.
Cerita dong, Mbak.. kok bisa memutuskan melahirkan dengan gentle birth? Apa bedanya dengan melahirkan biasa??, tanya seorang kenalan, dalam emailnya.

Pasca melahirkan Joserizal Zam Zam, anak kedua, pada 10 Maret 2011 lalu, saya menerima cukup banyak tanggapan dan pertanyaan. Sebagian besar dari teman-teman dekat, namun banyak juga dari teman-teman baru, alias yang sebelumnya belum pernah saya kenal, namun mengaku penasaran dengan proses kelahiran Jose, kemudian menghubungi saya melalui email, facebook, dan telepon. Tulisan ini, dipublikasikan sama sekali bukan dengan maksud membusungkan dada. Melainkan, semata-mata ingin berbagi, agar semakin banyak perempuan, keluarga, dan anak-anak yang memperoleh manfaatnya.

Dari water birth ke gentle birth

Gentle birth.

Pada awalnya, konsep ini belum saya kenal sama sekali. Saya justru lebih tertarik pada istilah water birth, yang belakangan banyak diberitakan media sebagai metode persalinan “tanpa” rasa sakit. Beberapa klinik dan rumah sakit di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia mulai “berbondong-bondong” menyediakan fasilitas ini. Tarifnya relatif tinggi, karena didudukkan di atas tarif persalinan spontan (namun masih di bawah tarif persalinan secara section atau operasi sesar).

Fenomena ini, terus terang, menyedot perhatian saya, dengan begitu kuatnya. Seperti gelembung sabun, satu demi satu pertanyaan menggelembung, lalu meletup di atas kepala. Seperti, “Kenapa demam waterbirth baru muncul belakangan?”, “Bagaimana awal munculnya metode ini?”, “Apa yang membuatnya berbeda dengan persalinan umum?”, dan masih banyak lagi.

Saking penasarannya, saya bersemangat untuk mempelajari lebih jauh, dan menyajikannya dalam ulasan yang lebih komplit dalam sebuah laporan (artikel) untuk media tempat saya bekerja. Beruntung, meskipun belum menjadi keputusan final, ide tersebut diterima.

Observasi dan riset pun mulai.

Bahwa water birth membuat persalinan relatif lebih nyaman itu memang benar. secara umum, sebanya adalah karena air hangat bersifat membuat rileks, sehingga rasa sakit yang dirasakan pada saat kontraksi berkurang.

Namun selain itu, saya juga dikejutkan dengan berbagai ?penemuan? yang ada dalam aspek persalinan.  Mulai dari pergeseran cara memandang peristiwa kehamilan dan  persalinan, prosedur medis yang belum tentu berlatarbelakang kepentingan pasien, intervensi medis yang belum tentu diperlukan, evolusi posisi persalinan yang (ternyata) justru menjadi kurang ramah bagi proses persalinan itu sendiri, hingga pendekatan persalinan yang cenderung fokus pada bagaimana membuat ibu lebih nyaman secara fisik saat bersalin; tidak sakit, tidak nyeri, dsb.

Ibu yang melahirkan dan bayi yang lahir dengan selamat dan tubuhnya berfungsi  dengan baik, biasanya juga dianggap sudah cukup. Namun, bagaimana pengalaman fisik, mental, dan spiritual ibu saat melahirkan, juga bayi itu sendiri saat dilahirkan, seperti terlupakan dan diabaikan. Padahal, bagaimana perlakuan yang dialami bayi dan ibu serta lingkungan tempat ia dilahirkan ternyata sangat berperan terhadap trauma dan ikut menentukan kehidupannya kelak. Mulai dari karakter yang terbentuk, gangguan penyakit (fisik dan mental), hingga meningkatnya risiko dalam menyalahgunakan obat dan bunuh diri.

Secara pribadi, puncaknya adalah ketika saya menonton film Birth Into Being karya Elena Tonetti, seorang aktivis natural childbirth dari Rusia. Sepanjang film, saya tak henti-hentinya menangis. Beberapa kali, saya mematikan film untuk sementara waktu, karena tak sanggup melanjutkan. Hati ini seperti diaduk-aduk. Antara terkejut, kagum, haru, hingga sedih yang luar biasa.

Saya baru tahu, bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara bayi yang dilahirkan secara lembut, tenang, dan tanpa tekanan atau paksaan (gentle birth), dengan bayi-bayi yang dilahirkan secara penuh intervensi.

Bayi yang lahir secara gentle birth bereaksi mirip orang yang baru saja bangun tidur; matanya membuka perlahan, sangat tenang (bahkan bisa tersenyum!), dan menangis dengan nada “sedang-sedang” saja. Sementara bayi yang dilahirkan penuh intervensi dan berada dalam suasana panik, atau bising, umumnya menangis melengking dengan nada tinggi, seolah menunjukkan reaksi terkejut, marah, dan sedih. Yang lebih memprihatinkan, bayi yang dilahirkan dengan intervensi tadi masih harus menerima rangkaian prosedur lagi; pemotongan tali pusat saat denyutnya belum berhenti, pembersihan saluran pernapasan menggunakan selang, pemisahan dengan sang ibu, dan sebagainya.

Saya juga baru tahu, bahwa teriakan memberi semangat yang dilakukan saat ibu bersalin, omelan, kecemasan dokter, bidan, atau suster, kesedihan, kelelahan yang dialami sang Ibu, semuanya bisa dirasakan oleh bayi, dan terekam kuat dalam pikiran bawah sadarnya, serta dibawa hingga dewasa.

Rupanya… water birth, yang semula menarik perhatian saya, “belum ada apa-apanya”.

Karena gentle birth, esensi di dalamnya, justru jarang diungkap, bahkan mungkin tidak tersentuh, karena luput dari perhatian.

Padahal, gentle birth merupakan prinsip yang mendasari proses kehamilan dan persalinan yang ramah jiwa dan minim trauma. Ia ingin mengembalikan manusia pada ?fitrah?-nya, dengan kepercayaan bahwa setiap perempuan memiliki kemampuan untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan dengan aman dan nyaman, serta menjadikan momen-momen tersebut sebagai sarana transformasi ke tingkat spiritual yang lebih tinggi; asalkan, potensi yang sudah ada di dalam dirinya diberdayakan. Jadi, esensinya bukan sekadar metode untuk menghindari rasa sakit, apalagi untuk gaya-gayaan.

Tiba-tiba saya menjadi begitu yakin, Allah menjadikan penemuan tersebut sebagai amanah, agar saya menjalaninya. Untuk memperbaiki kekurangan yang ada saat saya hamil dan melahirkan Velma, anak pertama saya, lebih dari lima tahun yang lalu.

Dan mempersembahkannya. Untuk calon anak kedua di dalam rahim saya: Yang saat itu, usianya baru 9 minggu.

Langkah kecil pun dimulai

Pendekatan pada Mas Uun, suami saya, mulai berjalan. Hampir setiap malam, “oleh-oleh” yang saya bawa pulang ke rumah untuknya berupa topik-topik mengenai gentle birth, baik itu berupa jurnal penelitian, hasil wawancara dengan responden dan narasumber, cerita mengenai pengamatan saya di lapangan, download-an klip-klip  youtube, juga catatan mengenai judul film-film dokumenter mengenai berbagai aspek persalinan.

Sekali dua kali, ia tidak terlalu menanggapi. Oleh-oleh saya tadi hanya dilihat sekilas, lalu digeletakkannya begitu saja. Tiga kali empat kali, ia mulai mendengar saya bercerita. Lima kali enam kali, ia mulai berkomentar, “Itu kan di luar negeri, kalau di Indonesia, ngapain? Apa gunanya rumah sakit?”, waktu saya melontarkan diskusi bertema melahirkan di rumah.

Ia tidak langsung mendukung. Saya paham, ia yang cenderung berpikir serba logika, dan berasal dari keluarga medis, perlu banyak waktu untuk merendahkan ego dan mencerna.

Hingga sekitar  sebulan kemudian, jawaban itu hadir bersama senyuman. Rupanya, tanpa saya tahu, diam-diam ia mempelajari “oleh-oleh” yang saya bawakan tadi, dengan sungguh-sungguh. “Kenapa kita baru tahu sekarang ya? Yuk, kita niatin bareng untuk gentle birth!” tuturnya mantap.

Meskipun begitu, kami belum berani memproklamirkan diri untuk melahirkan dalam sebuah kolam air, apalagi, di rumah kami sendiri. Pasalnya, gentle birth adalah persembahan bagi bayi. Jadi, yang kami lakukan selama hamil adalah mengajak ngobrol si bayi, memintanya menentukan sendiri, dengan cara apa ia “keluar” dengan nyaman. Menurutnya. Bukan menurut saya, “aturan” di luar sana, atau apa pun.

Saya bersama Mas, hanya sebatas berusaha belajar mendengarkan isyaratnya,  dan berusaha mewujudkannya. Mulai dari survey klinik dan rumah sakit di akhir pekan, serta mengondisikan diri agar kehamilan berjalan sehat dan lancar seperti menjaga pola makan yang seimbang, beryoga, taichi, bio energy, meditasi, dan hypnosis. Sesi relaksasi, afirmasi, visualisasi, menjadi saat-saat istimewa yang mengisi hari-hari kami.

Velma, si Kakak, pun tak ketinggalan berpartisipasi. Biasanya, sambil menunggu si Papa pulang kerja, kami berdua menari bersama. Mulai dari tarian lembut diiringi lantunan shalawat Habib Assegaf, musik instrumental, mantram Gayatri, hingga yang agak “pecicilan” bersama lagu-lagu milik Black Eyed Peas. Velma juga yang menyemangati saya untuk rajin melakukan pelvic rocking, sebagai cara untuk mempermudah membukanya jalan lahir di hari persalinan nanti. Sungguh, saat itu, gentle birth seolah menjadi sebuah cita-cita yang begitu ingin kami raih.

Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Selain yang sudah kami usahakan tadi, selebihnya, semua kami ikhlaskan padaNya. Saya yakin, kalau Allah ridha, dan gentle birth ini memang benar-benar membawa kebaikan bagi bayi kami, bagi kami semua, Ia akan memudahkan dan mempertemukan kami dengan orang-orang yang sejalan. Termasuk sang bidan.

Percaya kok, tapi…

“Kamu nggak percaya sama dokter?” Begitu tanya seorang kawan.

Sejak awal kehamilan hingga H-1 persalinan, saya mempercayakan perawatan antenatal pada seorang dokter wanita, yang dulu menangani kehamilan dan persalinan saya yang pertama. Ia seorang dokter yang sabar, dan sangat pro-kelahiran normal. Obat dan suplemen pun, tidak akan ia resepkan jika saya tidak memerlukan.

Soo? what??

Saya berpendapat, awal mula bergesernya paradigma tentang persalinan, evolusi posisi bersalin, serta aspek lain yang menyertainya, sedikit banyak disebabkan oleh “dosa awal” Descartes, seorang cendekia yang memilah tubuh manusia dan mempelajarinya sedetil mungkin, dengan paradigm ilmu eksakta. Tubuh manusia pun, sejak itu, mulai dipandang seperti mesin, yang bisa dipreteli satu per satu. Nilai tubuh manusia pun menyusut. Terpisah-pisah antara mind, body, dan spirit-nya.

Berkaca pada pengalaman melahirkan Velma, di rumah sakit, secara pribadi saya merasa lingkungannya kurang kondusif utk gentle birth karena RS seolah dirancang untuk “melakukan tindakan”, dan semua sudah memiliki sistem yang baku. Saat saya datang pagi, sekian jam belum ada pembukaan yang cukup, prosedur selanjutnya adalah induksi. Sekian jam lewat, jika target induksi tidak tercapai, prosedur lainnya sudah menanti.

Demikian juga pada saat kontrol terakhir, yaitu pada HPL, H-1 kelahiran Jose, saya memeriksakan diri ke RS. Namun, ternyata dokter langganan saya sedang ada acara di luar kota. Saya pun memeriksakan diri ke dokter lain yang ada. Waktu itu, berdasarkan pemeriksaan USG, ia mengatakan bahwa cairan ketuban saya masih banyak dan jernih, plasenta bagus, tidak ada lilitan tali pusat, posisi bayi sudah masuk rongga panggul, detak jantung bayi normal dan stabil, begitu juga dengan tekanan darah saya. Beliau mengatakan, “semua baik-baik saja”, namun di saat yang sama  melarang  saya langsung pulang.

Menurutnya, kondisi saya akan dikonsultasikan terlebih dahulu ke dokter yang biasa memeriksa saya. “Siapa tahu beliau minta Anda diinduksi, karena sekarang sudah HPL dan bayi belum lahir juga”, jelasnya. Sementara, dari beberapa referensi yang saya baca, HPL adalah perkiraan teknis. Jika kondisi ibu dan bayi baik, kehamilan masih bisa ditunggu hingga berusia 42 minggu.

Saya menilai, jika kita melahirkan di RS, persalinan lebih dipandang sebagai peristiwa medis-biologis. Sementara pada gentle birth, kita justru diajarkan untuk percaya pada kemampuan tubuh dan proses alam, karena setiap fasenya memiliki manfaat dan makna tersendiri yang berpengaruh terhadap kehidupan ibu, bayi, bahkan keluarga. Jadi, kalaupun ada intervensi medis, itu hanya dilakukan jika kita benar-benar memerlukannya.

Inilah yang membuat kami merasa tidak berada pada visi yang sama, dan memutuskan untuk melahirkan di rumah dibantu bidan yang memahami gentle birth. Meskipun demikian, kami tetap berjaga-jaga dengan beberapa plan cadangan, seperti tetap melakukan survey alternative rumah sakit yang kriterianya paling memenuhi syarat, serta mempersiapkan segala keperluan jika terjadi kondisi darurat.

Jodoh memang nggak kemana

Banyak yang bertanya, “Bidannya dari Klaten? Jauh amat!”

“Kayak nggak ada yang dekat aja!”

“Gimana tuh cara ngepasin waktunya??

Sejujurnya, saya pun tidak punya trik apa-apa atau usaha khusus untuk “ngepasin” waktu, antara datangnya bidan dengan kelahiran bayi. semua terjadi begitu saja.. seperti serba kebetulan. Yang saya tahu, sejak hamil, kami hanya selalu meminta si adik menentukan sendiri juga, dengan siapa kelak ia ingin mamanya dibantu melakukan persalinan. “Mau lairan sama tante siapa, Dik… kasih tau Mama, bantu Mama juga ya..”, begitu ucapan saya padanya.

Jakarta, 9 Maret 2011.

Usai memeriksakan diri ke dokter, di H-1 tadi, saya iseng-iseng mengirim SMS pada Mbak Yesie, seorang bidan dari Klaten, yang juga praktisi hypnobirthing dan mendalami gentle birth. Saya kabarkan tentang kondisi saya berdasarkan hasil USG dan CTG saat itu. Ternyata, Mbak Yesie sedang dalam keadaan luang, dan menyatakan kesanggupannya ke Jakarta!

Meskipun gembira, hal itu sempat membuat saya termangu agak lama. Beberapa pertanyaan seperti, “Benarkah dia jodoh saya? Yang dipilih Tuhan? Dan diinginkan si adik?” bergantian melintas di kepala.

Karena sejujurnya, selain Mbak Yesie, saya juga  sudah mengantongi nama bidan di Jakarta yang bersedia mengakomodasi beberapa prinsip gentle birth dan bersedia membantu persalinan di rumah, sebagai cadangan. Sehari sebelumnya, saya bahkan sempat memutuskan agar ia saja yang nantinya mendampingi saya, dengan alasan tempat tinggalnya lebih “masuk akal” untuk dijangkau, sehingga sewaktu-waktu saya memerlukan, ia bisa datang.

Masih di rumah sakit, usai shalat, saya bermunajat. “Allah, jika memang ia yang Engkau pilihkan untuk kami, jika ia memang yang baik untuk mendampingi kelahiran adik, jika memang adik memilihnya, mudahkanlah. Dan beri kami kemudahan dalam mencerna petunjukmu..”

Lama saya tergugu. Dalam keheningan, kemantapan itu datang. Tak lama kemudian, Mbak Yesie mengabarkan, bahwa ia sudah memperoleh tiket ke Jakarta, malam itu juga!

Pukul 23.00, saya dan Irwan menjemput Mbak Yesie yang menumpang taksi dari bandara, di depan Citos. Tiba di rumah, Mas  dan Mbak Yesie langsung memompa gymnastic ball, sementara saya sibuk menyiapkan kamar, mengelap permukaan kolam karet, menyetel musik, dan menyalakan lilin aromaterapi.

Sekitar pukul 00.30, kontraksi sudah 5 menit sekali, dengan durasi masing-masing sekitar 40 detik. Waktu diperiksa, ternyata sudah pembukaan dua. Wah, Berbunga-bunga rasanya, membayangkan si adik yang akan hadir sebentar lagi. Mbak Yesie meminta kami untuk tidur saja dulu…

Setelah shalat, saya dan Mas menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik, bermeditasi, sambil melakukan afirmasi dan visualisasi. Sambil tiduran, kami juga mengobrol, bercanda, sambil berpelukan. Pokoknya, santai dan, Alhamdulillah, saya sempat tidur beneran! 😛

Ketika nyeri kontraksi berganti sensasi “lain”

Pukul 03.10, saya terbangun karena mulai merasakan sensasi lain. Insting saya berkata, sudah waktunya. Mas membangunkan Mbak Yesie. Saya pun duduk di gym ball dipeluk Mas dr belakang- sambil melakukan pelvic rocking, berbicara pada bayi, sekaligus bervisualisasi tentang membukanya jalan lahir. ?Bergoyang Inul? di atas gym ball tanpa henti, ternyata capek juga. Saya sempat kehausan, dan menghabiskan 2 cangkir teh manis hangat 😀

Pukul 03.40, Mbak Yesie meminta saya untuk mandi dan keramas. Mendengarnya, saya sempat bertanya-tanya. Serius? Jam segini disuruh mandi? Apa-apaan ini? hihihi. Tapi, saya ikuti saja. (Belakangan, saya tahu bahwa secara filosofi, tujuannya adalah untuk membersihkan diri menyambut bayi, makhluk yang suci. Mandi juga berperan membuat rileks, membuka cakra di tubuh kita sehingga chi atau aliran energi berjalan lancar).

Ternyata, baru selesai mandi dan hendak kembali ke kamar, nyeri kontraksi berganti sensasi lain. Kaki saya gemetar. Saya yang waktu itu sedang berdiri, juga merasakan bahwa lutut seolah spontan menekuk, sulit ditahan. Ketika duduk di closet, saat itulah ketuban saya pecah.

Setelah membersihkan diri, saya kembali masuk ke kamar. Mbak Yesie mengadakan pemeriksaan dalam, dan ternyata pembukaan sudah lengkap! Waduh.. ternyata prosesnya berjalan lebih cepat dari yang saya bayangkan. Teorinya kan, saya masuk kolam pada sekitar pembukaan 5 atau 6, supaya bisa merasakan rileksnya berendam di air hangat. Lah, ini… rileks2 juga… tau-tau malah sudah terlewat? hehehe

Ternyata, memang tidak perlu mengejan.. sama sekali!

Saya pun segera masuk ke kolam.

Begitu nyemplung, insting saya menuntun untuk mengambil posisi merangkak-berlutut sambil bersandar pada pinggiran kolam. Usai menyiapkan kamera, Mas ikut masuk ke kolam dan menempatkan dirinya di belakang saya, kembali mempraktikkan endorphin massage. Suasananya begitu damai, menenangkan.

Saya kurang tahu pastinya, namun durasi video dokumentasi persalinan kami menunjukkan, proses persalinan sejak masuk kolam hingga Jose lahir berlangsung sekitar 4 menit. Dalam kolam, perlahan-lahan saya merasakan kepala bayi mulai turun, turun..turun lagi dan terasa menampakkan sebagian ujungnya liang vagina (crowning). Saat itulah, demi kemudahan menerima bayi yang meluncur sebentar lagi, saya mengubah posisi, dari berlutut menjadi setengah duduk, dengan punggung bersandar pada pinggiran kolam.

Saat itu, kami membuktikan sendiri bahwa bayi ternyata punya kemampuan untuk keluar secara alami, sehingga kita tidak perlu mengejan, sama sekali. Yang saya lakukan hanya bernapas dan terus berusaha rileks, karena semakin rileks, terasa sekali ia keluar semakin lembut. Bayi dan tubuh kita, bisa saling bekerjasama.

10 Maret 2011, pukul 04.20

Jose, bayi seberat 3,5 kg dan panjang 49 cm itu,  meluncur keluar dengan mulusnya. Ia diterima oleh Mbak Yesie, berenang-renang sebentar di dalam air, kemudian segera diberikan kepada saya untuk didekap, dan menyusu. Tali pusatnya masih menjuntai?terhubung dengan plasenta yang masih berada di dalam perut, menunggu kelahirannya sendiri.

Awalnya, kami berencana agar tali pusat bayi tidak dipotong sama sekali, melainkan dibiarkan terus terhubung dengan plasentanya hingga nantinya kering dan putus sendiri. Namun sayang, tali pusat Jose sangat pendek, dan kami juga lupa menyiapkan garam laut, bubuk kunyit, dan teman-temannya, untuk merawat plasenta. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan tadi, 6 jam setelah Jose lahir, tali pusatnya dipotong dengan cara dibakar menggunakan lilin.

Apa bedanya dengan kelahiran anak pertama?

Pada persalinan pertama, karena fase persalinan dinilai lambat, saya diinduksi. Waktu itu, setelah induksi, yang paling terasa adalah “putusnya hubungan” antara saya dengan tubuh saya sendiri. Jadi, saya seperti tidak menjalani persalinan dengan sadar.

Saat merasakan nyeri kontraksi, satu-satunya hal yang bisa saya rasakan hanyalah sakit dan karena itu, saya ingin cepat-cepat selesai, Terserah deh, dokternya mau ngapain, badan saya mau diapain, yang penting bayi cepet keluar, selamat, sudah.

Secara tidak sadar, saya menyerahkan kekuatan dan otonomi atas tubuh saya kepada pihak lain, yang saya anggap lebih tahu, lebih canggih, lebih “menjamin”.

Sedangkan pada persalinan kedua, kami (saya, Mas, dan Velma), masing-masing berproses sebagai individu, dan menjalani prosesnya sejak hamil dengan penuh kesadaran. Pengetahuan kami juga sudah lebih banyak daripada dulu. Ini membuat kami lebih paham dengan yang terjadi pada tubuh itu sendiri, sehingga tahu cara menyikapinya. Saat nyeri kontraksi misalnya, kami paham bahwa itu menandakan bahwa mekanisme tubuh sedang mempersiapkan jalan keluarnya bayi, sehingga saya pun harus “bekerjasama” agar mekanisme tubuh akan berjalan dengan lancar, dan semua proses alamiah (produksi hormon, kontraksi otot, dsb) terjadi dengan baik.

Dua kali melahirkan dengan cara yang sangat berbeda, membuat saya belajar banyak tentang perbedaan yang ada.

Meskipun sempat sedih dan terbersit rasa bersalah pada Velma, tidak ada yang perlu disesalkan pada pengalaman kelahiran anak pertama.Karena dari situlah, saya justru bisa berkaca, membaca kekurangan, dan termotivasi untuk membayarnya, mulai sekarang.

Seperti pengalaman yang saya peroleh dari kelahiran Jose. Gentle birth merupakan titik balik bagi saya, menjadi langkah awal sekaligus modal dalam  bertransformasi. Tentang menjalani hidup. Tentang menjadi manusia. Tentang kehidupan.  Tentang berproses, dari kepompong menjadi kupu-kupu. Terutama dalam menjalani peran sebagai ibu.

Kalaupun ada yang membuat saya merasakan perbedaan dari Velma dan Jose, saya tidak ingin terlalu cepat memberi label bahwa itu karena gentle birth atau bukan. Saya tidak tahu..

Yang jelas, sejak lahir, Jose sama sekali tidak kuning, meskipun tidak dijemur (awal2 dia lahir, matahari ngumpet melulu). Meskipun tidak menjalani pembersihan saluran pernapasan, ternyata ia mampu mengeluarkan sisa-sisa lendir dan cairannya sendiri, beberapa jam seusai lahir. Ia juga sangat tenang, sama sekali tidak rewel. Jadi, sejak ia lahir hingga tulisan ini dibuat, tidak ada episode begadang sama sekali. Kalaupun menangis, sebabnya langsung bisa dikenali: karena sangat lapar, popoknya basah, atau diisengi si Kakak 🙂

Menurut pengamatan kami, Jose juga bayi yang penuh “kesadaran”. Ia juga sangat mudah “diberitahu” dan diajak bekerjasama. Mulai dari hal-hal yang sederhana seperti memintanya tidur lagi saat ia terbangun di malam hari, hingga melakukan suatu hal, yang bagi kami, lumayan “ajaib”. Saat ia batuk-batuk beberapa waktu lalu, misalnya, kami bisikkan di telinganya, “Adik, batuk itu tujuannya bikin dahak di dalam badan keluar. Batuk pelan-pelan ya.. terus telan dahaknya, biar nanti keluar lewat pup”. Percaya tidak percaya, ia bisa melakukannya, persis seperti yang kami instruksikan, dengan baik! Alhamdulillah, tanpa perlu waktu lama, ia sudah fit kembali.

No pain, no gain!

“Ooo.. jadi, melahirkannya masih tetep ngerasain sakit ya, Mbak?”, Begitu tanya seseorang, dengan nada apatis.

Pada titik ini, saya menjadi percaya dan paham bahwa ketika Tuhan menciptakan sesuatu, itu pasti ada tujuanya. Begitu juga dengan rasa sakit atau nyeri di tubuh kita pun, berperan sebagai “alarm”, yang menandakan bahwa ada mekanisme tubuh yang sedang bekerja. Mematikan alarm secara sewenang-wenang, apalagi tanpa mengetahui sebab dan risikonya, sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, mungkin justru mengundang permasalahan baru. Jadi, untuk apa menghindari rasa sakit yang sejatinya justru menandakan bahwa tubuh kita sedang menjalankan fungsinya dengan baik?

Mungkin, yang perlu dilakukan adalah, kita belajar memahami apa yang terjadi dengan diri kita sendiri selama hamil, apa yang terjadi pada proses persalinan, juga segala aspek yang ada di dalamnya. Jika sudah belajar, kita akan tahu bahwa nyeri kontraksi, misalnya, merupakan mekanisme alami yang diperlukan rahim untuk mengeluarkan bayi. Jika kontraksi makin sering, artinya si ibu akan segera bertemu bayi.

Dengan memahaminya dengan kacamata berbeda, cara memandang rasa sakitnya akan berbeda.

Berita baiknya (eh.. atau buruk ya? hehehe).. Nyeri akan tetap ada. Meskipun demikian, ia tidak terasa menyakitkan, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati, bahkan… ditunggu-tunggu! 🙂

“Tapi, kayaknya semua itu hanya bisa dilakukan kalau kita melahirkan di rumah ya?”

Gentle birth didasari keyakinan bahwa setiap perempuan memiliki potensi untuk menjalani proses melahirkan sealamiah mungkin, tenang, dan nyaman. Ia mengajarkan perempuan untuk menyatu, mempercayai isyarat tubuh, serta meyakini bahwa tubuh mampu berfungsi sebagaimana mestinya sehingga komplikasi bisa ditekan serendah mungkin, bahkan dihindari.

Asalkan prinsip2 gentle birth dipenuhi, metode persalinannya bisa apa saja, baik waterbirth, melahirkan di atas ranjang, baik di rumah, klinik, maupun di rumah sakit.  Bahkan, jika kondisi memang mengharuskan seorang ibu menjalani operasi sesar, prinsip gentle birth tetap bisa diterapkan.

Mengutip ucapan Dr Hariyasa Sanjaya, SpOG (Laporan Khusus Majalah Nirmala, Desember 2010), tanpa menjadi alergi terhadap perkembangan teknologi dan dunia medis, yang penting kita paham bahwa ketika hamil dan melahirkan, yang memegang kendali dan menentukan nasib tubuh kita adalah kita sendiri. Bukan dokter, bidan, perlengkapan serba modern, maupun teknologi canggih.

Tetaplah memeriksakan kehamilan ke dokter atau bidan, namun jangan lupa untuk banyak belajar berbagai informasi dan memberdayakan diri. Apapun pilihannya nanti, lakukan dengan penuh kesadaran. Bukan semata-mata karena ?yang lain juga begitu?, sekadar mengikuti “kebenaran warisan”, alias sesuatu yang sudah menjadi ?hal biasa? di sekitar kita.

Niatkan, persiapkan, dan perjuangkan.

Apa pun hasilnya nanti… Esensi dari sesuatu justru terletak pada proses perjuangannya, bukan?** 🙂

**

Jakarta, 1 Mei 2011.

Dipersembahkan kepada Velma Aisha Zam Zam dan Joserizal Zam Zam.

Copyright of Dyah Pratitasari

sumber Bidan Kita

Advertisements

MY ECSTATIC BIRTH : Melahirkan Maulana Yusuf Ghifari ke Dunia

Usia kehamilan saya menginjak 41 minggu 2 hari saat Yusuf lahir ke dunia, Rabu 24 Agustus 2011 jam setengah 4 sore. Dua hari sebelumnya saya benar-benar masih ragu, bisakah segala upaya yang saya kerahkan selama ini membuahkan hasil yang manis?  Akankah Yusuf lahir sendiri alami tanpa obat-obatan? Bagaimana bila kontraksi alami itu tak kunjung terjadi juga? Mulai berani membuat visualisasi kepasrahan diri bila kami harus menjalani induksi atau bahkan operasi Caesar. Apapun yang menjadi kehendakMu, tetap akan terjadi Ya Allah. Saya menutup diri dan lebih berfokus ke dalam.

Sambil berjalan atau melakukan sesuatu, sesekali saya coba masuk ke dalam tubuh janin saya, mencoba meresapi apa pesannya, apa yang dirasakannya, dan apa yang diinginkannya. Kerja sama kami berempat selama ini sudah bagus sekali. Selalu berusaha melewatkan waktu dengan hal-hal menyenangkan seperti nonton, makan, ngemall. Minggu lalu saya katakan pada suami bahwa yuk kita puas-puasin untuk sedikit hedonis selama 3 hari ini, kan nanti dedek datang kita sudah nggak bisa kemana-mana lagi.

Pada hari Senin saya dan bidan saya berkomunikasi via Blackberry Messanger, dia sudah sampai dari event pelatihan di Bali dan sekarang siap untuk menunggu komando dari saya. Saya pesankan supaya dia istirahat dulu biar staminanya pulih kembali. Dia juga berpesan kalau bisa saya buat campuran jus jeruk, telur kampung dan castor oil untuk diminum supaya bereaksi sebagai induksi alami. Wah sayang sekali castor oil susah didapat kalau mendadak begini.

Cari alternatif lain dulu deh, saya dan mama memutuskan untuk pergi berbelanja bekal makanan selama pembantu pulang mudik nanti. Masih semangat jalan kaki seputaran Plaza Pondok Gede dan sesekali terasa dorongan dan perasan ringan dari rahim saya. Ayo?ayo lanjutin terus, ini yang aku tunggu-tunggu? Tapi ternyata hari itu memang belum saatnya. Malam harinya saat suami pergi keluar, saya minta supaya beli jeruk Sunkist yang banyak untuk dibuat jus. Castor oil tidak punya, jus jeruk saja bolehlah dicoba, yang penting efek cuci perutnya sama. Setibanya di rumah suami tidak saja membawa jeruk, tapi juga durian setengah buah. Buat saya semua ujarnya, ckckck.

Selasa pagi pesan BBM dari Bidan Yesie mengatakan bahwa dia akan berangkat ke Jakarta keesokan harinya, dia ada feeling kalau tidak besok ya lusa adik Yusuf bakal lahir. Wah saya dibilang seperti itu malah jadi panik sendiri, apa iya? Saya kok belum merasakan apa-apa? Sementara dalam hati saya juga sangat mengidamkan persalinan itu untuk segera tiba. Agak takut bila Selasa berganti menjadi Rabu, pihak Rumah Sakit X akan menelpon ke rumah atau ke HP untuk menagih janjiku datang untuk induksi.

Ya Allah, saya takut beneran.. Tapi rasa takut itu malah memacu saya untuk semangat mencari castor oil di segenap penjuru seller online dan menelpon semua swalayan yang menjual bahan-bahan organic seperti Ranch Market, Food Hall, Total Buah Segar dan lain-lain. Hasil nihil, tapi harapan masih ada. Padahal ternyata manfaat castor oil untuk persalinan memang bagus sekali setelah saya cek di internet. Masyarakat Bali rata-rata akrab dengan manfaat castor oil untuk para ibu hamil yang sudah masuk bulannya. Penggunaan di saat yang tepat akan memberikan efek yang cepat namun alami, tidak seperti rumput Fatima yang lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya. Baiklah, saya belum berjodoh untuk minum castor oil?semoga Tuhan memberikan jalan lain.

Pukul 2 siang saat saya nyaris tertidur melakukan relaksasi hypnobirthing, Bidan Yesie menelpon dan memastikan besok siang akan berangkat, dia akan mengupayakan induksi alami ke saya serta relaksasi juga untuk mempercepat proses. Sembari menunggu selama semalam ini, saya ditugaskan untuk menekan titik-titik akrupesur tertentu, kalau bisa (maaf) bercampur dengan suami, juga makan nanas atau durian (setelah menutup telpon saya langsung makan durian semalam tiga biji, kok ya feeling suami saya dapet sampai membelikan saya durian sebanyak ini).

Selain itu Bidan Yesie juga bilang akan sangat bagus sekali kalau saya bisa datang ke Klinik Pro V di Permata Hijau untuk melakukan terapi NTS (Neuro Tendo Stimulation) dengan Suhu Haryanto, efek dan energi saya akan selaras setelahnya. Sayapun sebagai klien yang kooperatif langsung menghubungi Pro V saat itu juga untuk membuat janji di Rabu pagi keesokannya. Ternyata terapis NTS bapak Haryanto tidak berpraktek hari Rabu, hanya Selasa-Kamis.  Entah didorong oleh kekuatan apa, sayapun sore itu berangkat jam setengah 6 sore menuju Pro V, sendirian naik taksi. Nekat memang, tapi rasa cinta yang begitu besar kepada adik Yusuf memang bisa membuatku melakukan apa saja. Alhamdulillah suami tercintaku juga manut-manut saja saat saya pamit pergi dan minta tolong dia jaga Baim. Dia cuma Tanya balik jam berapa Bun? Saya bilang jam 8 Insya Allah.

Pukul setengah 7 malam sampai di Pro V, disambut ibu Lanny Kuswandi yang ramah dan baik luar biasa, saya mendaftar, menumpang Sholat Maghrib, lalu langsung diterapi NTS oleh Suhu Haryanto. Selama diterapi Ibu Lanny selalu mendampingi di dalam ruangan sambil mengecek perut saya, memancing Yusuf bergerak lalu mengelus-elusnya. Terapi selesai dalam 1 jam dan sayapun pulang. Tiba di rumah pukul 21.30 malam, lalu tidur seperti biasa dengan ayah dan Baim.

Rabu jam 01.00 dini hari sembari tidur mulai merasakan perasan-perasan rutin diperut. Hey, mantap sekali efek NTS nya, ayo lagi. Saya sungguh menikmatinya, ini yang sudah ditunggu sejak lama. Pingin sekali mengabari Bidan Yesie tapi ini kan dini hari, dan masih ringan kok rasanya, nanti saja deh. Jam 03.00 saya niatkan bangun untuk sholat Tahajud, lalu duduk di atas bola bersalin. Suami terbangun sebentar, saya bisikkan, “Udah berasa mules kontraksi Yah, tapi dikit-dikit, enak gak kaya dulu.” Dia tidur lagi, tapi ganti-ganti posisi terus sambil ngomong, “Ah, udah gak bisa tidur nyenyak kalo begini.”

Jam 03.45 alarm sahur berbunyi, Baim terbangun kaget dan manja minta nenen. Saya pikir biar lebih oke dan cepat kontraksinya saya kasih saja. Nggak tahunya setelah tiga atau 4 hisapan, gelombang rahim yang agak besar datang dan blessss.. ketuban saya pecah. Sekarang saatnya bilang “Oow?!?” dan mulai panik beneran. Saya lari ke kamar mendi dan mendapati daster saya basah, air ketuban keluar lumayan banyak, jernih tidak kelihatan warna apa-apa.

Oh Tuhan, yang saya takutkan terjadi, saya pecah ketuban duluan, sudah tidak bisa waterbirth dengan optimal lagi deh. Saya langsung menghubungi para Bidan.. Karena panik saya juga menelpon Bu Lanny minta pendapat gimana ya kira-kira dengan Bidan Yesie yang berangkat siang ini apakah masih kekejar. Beliau menyarankan supaya tenang, bed rest dan banyak minum air putih atau Pocari. Beliau akan berusaha datang duluan supaya saya tenang.  Baim langsung diungsikan ke nanny nya. Alhamdulillah semua sangat baik dan menenangkan.

KALA 1 PERSALINAN

Jam 05.00 Tante Pardjo datang, mengelus dan memijat saya. Background musik well being sudah dipasang, lilin aromaterapi sudah dinyalakan. Ruangan gelap, udara subuh segar masuk lewat jendela. Saya disarankan untuk berbaring miring ke kiri. Ruangan ini telah menjadi tenang seperti kuil.

Jam 06.00 Reza Gunawan guru Trauma Healing dan Self healing saya menelpon, berpesan kalau KPD itu standar Rumah Sakitnya adalah bisa bertahan selama 12 jam. Namun bila kondisi kita di rumah, bed rest, minum banyak, dan tenang, ada yang bertahan hingga 3×24 jam. So tenang saja dan selamat ya, ujarnya. Hebat dan positif sekali orang-orang ini, belum lahir saja sudah kasih selamat. Saya beruntung deh pernah belajar sebentar dan memetik ilmu dari mereka.

Jam 07.30 Bidan Yesie mengabari sudah ada di pesawat menuju kesini. Alhamdulillah bisa berangkat dengan jadwal yang lebih cepat, semoga berjodoh dengan Yusuf. Dia menyuruh saya untuk mensterilkan kolam lalu dipompa. Lho saya bingung, “Bukannya kalau KPD sudah tidak disarankan waterbirth mba??” tanya saya. “Kita lihat nanti bagaimana ya, disiapkan saja dulu semuanya.”

Jam 08.00 Ibu Lanny datang, membuat saya jauh lebih percaya diri lagi. Kondisi tenang dan damai sehingga rembesan akhirnya mulai stagnan berhenti, kontraksi juga kembali jarang. Adik Yusuf lagi nungguin bidannya. Ibu Lanny dan Tante Pardjo asyik mengobrol sendiri dengan suara rendah. Suasana kamar saya yang akrab, tenang, membuat definisi waktu jadi bias. Inilah ruang bersalin terbaik di dunia, pikirku. Saya terus rajin melakukan siklus minum-berkemih-minum-berkemih demi terjaganya kuantitas air ketuban yang sudah pecah ini.

Jam 10.00 Bidan Yesie dan asistennya tiba di rumah. Background musik sedang memutar CD Katahati Institute nya Bapak Erbe Sentanu berisi Dzikir Istighfar. Setelah kami bersalaman dan cium pipi, dengan sigap mereka menyiapkan peralatan. Kemudian Bidan Yesie melakukan cek dalam dengan lembut. Alhamdulillah tidak sakit seperti dulu persalinan Baim, saya hanya merasa terdesak. Serviks saya sudah lunak, pembukaan 4, namun kepala Yusuf masih jauh di atas nih. Harus diupayakan induksi alami, mobilisasi dan homeopati. Sayapun disuruh jalan-jalan meski perlahan, duduk di bola bersalin melakukan gerakan pusaran, dan menggoyangkan pinggul (pelvic rocking). Senangnya bisa keluar kamar juga, berjalan-jalan mengitari rumah, bisa melihat keluar jendela, bunga-bunga dan tanaman di luar, nikmat sekali bisa mengambil energi dari alam. Karena merasa saya sudah aman bersama bidan saya, Ibu Lanny minta pamit karena ada urusan lain.

Jam 12 siang saya makan sambil tiduran. Kemudian dilakukan relaksasi hypnobirthing. Saya membujuk Yusuf supaya mau turun dan segera bertemu kita semua, saya puji dia anak pintar dan jenius, dia tahu apa yang harus dilakukan tanpa ada yang mengajari. Kontraksi saya terasa menguat saat saya berada dalam kondisi hypnosis itu, namun dengan otomatis saya bisa menyalurkannya lewat nafas panjang dan dalam, lalu dihembuskan keluar dengan panjang diiringi suara, kadang “aaaah” kadang “omm”, apapun yang saya rasa benar.

Saya memilih untuk menikmati setiap kontraksi yang datang daripada harus melawannya. Mama yang sempat mampir untuk melihat kondisi saya jadi bingung, tiap kali kontraksi kok saya malah mendesah. Bidan bilang cara itu bagus sekali untuk menyimpan energi dengan efisien dibandingkan kalau kita teriak-teriak, tangan mengepal dan nafas memburu. Saat kontraksi berakhir, saya bernafas seperti biasa, bisa mengobrol, mendengarkan para bidan saya bergosip ria, pokoknya terasa seperti di rumah, karena memang saya berada di rumah.

Waktu terus berjalan, cek rutin Doppler terus dilakukan, Alhamdulillah detak jantung Yusuf selalu stabil dan kuat, arjuna ku sedang berjuang turun menuju dunia. Namun sepertinya ada sesuatu yang salah, baik saya maupun para bidan menyadarinya. Kontraksi saya ringan sekali, tidak sampai 30 detik durasinya. Sayapun yang mengalami itu merasa aneh, ini rasanya jauh sekali dengan melahirkan anak pertama dulu dengan induksi. Enak, enak sekali, tidak sakit, hanya mulas. Skala 5 dari rentang 1-10. Sedangkan nyeri induksi waktu dulu bisa mencapai 9,5 skalanya. Bidan saya mulai khawatir kontraksi ringan ini tidak cukup efektif membawa bayi saya turun lebih jauh. Saya juga mulai jadi ragu, beneran nggak sih ini sudah benar kontraksinya? Merekapun melakukan induksi alami lebih giat lagi dengan sentuhan-sentuhan dan tekanan di titik tertentu untuk merangsang keluarnya endorphin.

Jam 13.30 saya tidak bisa menahan kantuk, badan sudah mulai lelah terjaga dari dini hari tadi. Sambil duduk di bola bersalin sambil dielus-elus di sana sini oleh 3 orang membuat kepala saya kadang-kadang terjatuh karena ngantuk, persis seperti ketiduran di angkot. Saya minta tidur sebentar, dan bisa! Sambil sesekali kontraksi tetap datang sehingga saya terbangun lagi untuk menggenggam tangan bidan. Baru kali ini saya tahu bahwa kita bisa tertidur di tengah-tengah proses persalinan. Bu Lanny yang sudah selesai urusannya tiba kembali di rumah untuk mendampingi saya, sambil saya tidur itu beliau mengelus tangan saya sambil mensugestikan bahwa bayi akan tetap turun ke bawah, semakin tertidur pulas, tidur yang sehat, bayi terus menuju ke bawah. Lalu kontraksipun datang. Begitu seterusnya.

Entah ada berapa menit atau jam yang terlewatkan, yang saya kurang bisa mengingat ada kejadian apa saja waktu itu. Yang penting saya sungguh mengalami distorsi waktu secara otomatis. Bidan saya secara bergiliran juga beristirahat. Bidan Yesie malah menyempatkan diri untuk meditasi di ruang tamu. Intinya selama itu saya selalu menerima limpahan kasih sayang, diperlakukan layaknya permaisuri, segala bentuk usapan dan belaian dikeluarkan untuk memicu endorfin. Terngianglah kembali suara Michel Odent di kepala saya, lalu saya katakan dengan jelas, “yang penting dalam persalinan adalah keluarnya endorfin hingga menekan adrenalin”.

Jam 15.00 saat semua sudah mulai merasa sedikit kepayahan, penuh ketidaktahuan kapan bayi ini lahir, tercetuslah ide dari ibu Lanny untuk melakukan posisi berjongkok sambil bersandar ke bola, lalu melakukan ayunan rutin ke atas dan ke bawah. Saat beliau mencontohkan posisi tersebut, hmm terasa seperti akrobat. Namun setelah saya coba, saya bisa melakukannya, dan enak sekali. Saat pinggang dan bokong mulai pegal saya istirahat sebentar di kursi dingklik untuk kemudian mulai lagi. Tidak disangka ternyata posisi dan gerakan tersebut menurunkan kepala bayi saya jauh lebih cepat dari yang dikira. Saat dilakukan cek dalam ternyata saya sudah bukaan 8 dan kepala sudah tersentuh saat dua ruas jari masuk. “Wow, ini adeknya pintar sekali,” kata bidan Yesie. Langsunglah suami saya dikomando untuk segera memasukkan air panas ke dalam kolam yang sebagian sudah diisi air dingin itu.

Semua sudah mulai sibuk, sibuk-sibuk bahagia. Bidan Yesie keluar mencari bunga-bungaan untuk dimasukkan ke dalam kolam. Perut saya yang merasakan kondisi bersemangat itu juga turut intens meningkatkan kekuatan perasan dan tekanannya, desahan sayapun semakin kuat hingga suamiku malah tertawa mendengarnya. Jadinya saya akan tetap mengeluarkan bayi di dalam air. Ketuban pecah dini bukan halangan untuk melakukan waterbirth, hanya saja memang tidak bisa masuk air semenjak bukaan 6 seperti kasus-kasus normal. Saya hanya boleh menumpang mengeluarkan bayi saat bukaan lengkap.

Selama menunggu pembukaan, saya harus mengelola rasa nyeri kontraksi dengan cara lain di luar kolam. Lagipula nyeri yang saya rasakanpun tidak seberapa ternyata, sungguh. Hanya mulas-mulas seperti ingin buang air. Meski tidak bisa lama-lama di air; proses kelahiran Yusuf akan tetap gentle, bayi akan menyentuh air terlebih dahulu sebelum berkontak dengan udara, transisi yang sungguh lembut. Setelah kolam dan air siap, saya disuruh untuk buang air kecil terlebih dahulu. Buang air kecil sangat penting sebelum kala 2 kelahiran bayi. Kandung kemih yang kosong menghasilkan chakra dasar yang kuat untuk mengeluarkan bayi. Sayapun ke kamar mandi untuk berkemih, saya coba dengan posisi berdiri, namun tidak berhasil mengeluarkan apapun dari kandung kemih ini. Sayapun bertanya dari dalam, “Mbaak, kok nggak bisa keluar??” Bidan Yesie melongok ke dalam sambil menyuruh supaya sambil duduk di kloset. Saya coba, berhasil keluar sedikit. Lalu ketika saya bangit dari kloset, detik itupun datang..

KALA 2 PERSALINAN

Saat saya bangkit dari kloset, ada rasa nyeri hebat yang sebenar-benarnya. Inilah nyeri sesungguhnya. Nyeri karena dorongan sesuatu dengan kekuatan yang begitu besar. Tak kuasa saya mulai berteriak panik karena reflek. Sensasi campur aduk ini sungguh tidak bisa dijelaskan. Bidan Yesie serta merta datang memegang dan memeluk saya. Lagi-lagi, sama saja seperti kejadian saat saya melahirkan anak pertama, kata-kata tidak senonoh itu spontan terlontar dengan keras, “Mbak Yesiieee!! FESESNYA MAU KELUAAAARR!!! FESESNYA MAU KELUAAAARRRRR!” Sambil saya menangis. Sekian mili detik saya kembali ke kejadian dua tahun lalu.

“DOKTEEEER SAYA MAU E?*G!!!!”

Lalu kembali ke saat ini dua tahun kemudian, dengan teriakan yang sama nyaringnya, terdengar jelas ke telinga semua orang di ruangan itu.

“MBAAAK, FESESKU MAU KELUAAARRR!”

Melahirkan sungguh tak pernah terasa sopan buatku.

“Nggak apa-apa, biarin keluarkan aja.”

Saya mohon maaf kepada segenap pembaca yang budiman, yang terjadi berikutnya seiring satu gelombang besar kala 2 persalinanku adalah : pluk, pluk, di lantai, lalu tetesan darah.

Yakin isi colonku sudah bersih, aku berjalan pelan dipapah menuju kolam, kepala Yusuf sudah benar-benar di ujung. Saat panggul sudah terendam dalam air, cesss…rasanya seperti bokong kebakar yang disiram, legaaa sekali. Aku menggerung berulang-ulang seperti mamalia, dalam posisi setengah berjongkok, tangan menyandar ke dinding kolam, mengumpulkan energi untuk aksi berikutnya. Saya bingung sekali karena tubuh saya bekerja sendiri mendorong kepala bayi, tidak ada istilah mengejan apalagi di bawah instruksi. Tak berapa lama kemudian, gelombang pasang berikutnya tiba, dan saya tahu inilah saatnya, saya ikuti gelombang itu dengan raungan panjang dan nyaring “AAAAAAARRRRRRRGH!” seperti ingin menyampaikan kepada dunia bahwa inilah kelahiran anakku.

Ada satu titik dimana segenap tubuh ini menyerah dalam otak reptil saya, saya hanya ingin bangkit dan mengaum seperti singa. Kedua bidan saya masih berada di depan saya sebelum akhirnya Mbak Ulya sang asisten yang menjaga di belakang saya berujar keras sambil menunjuk-nunjuk “Ibu! Kepala! Kepala!” Semua bidan beralih ke belakang tubuh saya, menangkap kepala, lalu mengecek posisi bayi, dan mengatakan dia perlu bantuan saya untuk mengejan sekali saja. Saya lakukan itu sekali dengan kuat dan beberapa saat sesudahnya saya dengar tangisan Yusuf dibelakang sana. Wah syahdu sekali, suamiku yang dari tadi selalu ada namun hanya berani mengamati, langsung memegang tangan saya dan mencium saya “Good job, bun.” Saya menangis bahagia. Maulana Yusuf Ghifari lahir pukul setengah empat sore, tepat 30 menit setelah kami semua nyaris resah dan putus asa. That’s exactly how the greatness of Allah SWT works.

KALA 3 PERSALINAN

Pelan-pelan saya membalikkan badan sembari melangkahi tali pusat yang masih terhubung ke dalam perut saya. Saya terima baby Yusuf di tangan, kemudian merasakan cocktail of love seperti yang dikatakan Michel Odent. Kini perang hormon telah usai, tinggal hormon-hormon cinta yang berpadu, entah berapa jenis hormon cinta, saya merasakan semuanya. Badannya begitu mungil, kulitnya masih setengah biru, matanya mengerjap-ngerjap. Mama datang memberi selamat, papa juga, semua larut dalam kebahagiaan di gua privat ini. Lalu saya diajak untuk melahirkan plasenta di luar kolam, saya langsung bisa berjalan keluar kolam menuju tempat tidur sambil mendekap Yusuf di dada saya. Plasenta saya lahir dengan lancar.

Pertanyaan saya kepada bidan, “Apakah panjang dan ukuran tali pusatku mencukupi syarat untuk dilakukannya Lotus Birth, mbak??”

“Oke, bisa ini.”

Alhamdulllah keinginanku untuk Lotus Birth terwujud. Selanjutnya, semua kegiatan orang-orang di kamar ini tak ada artinya lagi. Hanya ada Yusuf dan saya. Bidan Yesie berujar
saya perlu dijahit karena ada sedikit robek namun lurus dan rapi karena robeknya di dalam air, posisi kepala Yusuf tadi ternyata posterior, jadi manuver putaran paksi kepala Yusuf untuk mengeluarkan bahu dan seluruh tubuhnya merobek sedikit jalan lahirku. Kubilang silahkan dijahit saja, aku asyik sendiri dengan IMD sekaligus bonding pertama dengan Yusuf.

Waktu semakin menjadi distortif. Selama pembukaan berjam-jam tadi aku merasakannya cepat, sedangkan setelah lahir, semuanya seakan berjalan dengan gerak lambat. Bu Lanny (sekarang aku memanggilnya Ibu Peri yang baik hati) berkata, “Beneran ya bu Hanita, akhirnya kita sudah menjadi bukti.” Terlalu banyak hal yang menari-nari indah di kepala seperti kaleidoskop, segala usahaku, keteguhan belajarku, kemudian orang-orang hebat ini dengan sendirinya didekatkan oleh Allah kepadaku, lalu sekarang Yusuf lahir lembut dan selamat di dadaku, inilah ecstatic birth. Dengan mengalami sendiri cara Yusuf lahir ke dunia, maka semakin ingin dan semakin besarlah panggilanku. Aku bersedia melakukan apa saja agar wanita lain merasakan hal yang sama, pengalaman yang sama, air mata bahagia yang sama.

Terimakasih ibu Lanny Kuswandi sang ibu Peri, pendampingannya di saat-saat terakhir menjelang persalinan akan selalu saya ingat.

Terimakasih Bidan Yesie yang dari detik pertama sudah sangat sinergis dengan segala prinsip dan keinginan saya, kami mengagumi guru-guru yang sama, membaca artikel-artikel yang sama, kamulah soulmateku di bidang kebidanan, mbak..

Terimakasih Bidan Ulya sang asisten yang lucunya minta ampun, selalu memecah kesunyian dengan humor, namun segera hening kembali memegang erat tangan saya tiap saya memberi kode kontraksi sedang datang.

Terimakasih Tante Pardjo, yang sudah stand by dari sebelum semua muncul, dan stay sampai setelah semuanya pulang untuk mengobservasi perdarahan saya selama 2 jam.

Terimakasih mama papa yang sudah mau menerima konsep-konsep persalinan ini. Membantu menjaga Baim saat saya tidak bisa menjaganya. Rumah dan naungan kalian selama 2 bulan ini sudah membuat semua ini berhasil terjadi.

Terakhir, terimakasih yang sugguh besar untuk suamiku..yang sejak awal sudah sangat mendukung meski tanpa berperan aktif. Cukup dengan mengijinkan saya melahirkan dengan cara saya, pilihan saya, pandangan saya, itu saja sudah sangat besar tak terkira maknanya buat saya dan Yusuf. Dia menerima saya dengan segala keanehan saya, kehausan wawasan serta passion saya yang terkadang merepotkan dan tidak lumrah. Dia yang meski sangat logis dan konvensional namun tak banyak melarang saat saya mengikuti sekian pelatihan pembersihan trauma dan penyembuhan holistik. Dia yang rela kutinggalkan sendiri kesepian demi mengejar keinginanku. Dia yang melangsing karena terlalu sering makan apa adanya, seringkali hanya mie instan. Dia yang dulu terpekik ngeri melihat sekian gambar bayi lotus birth yang “sengaja” saya tayangkan di layar komputernya, kini akhirnya mengijinkan dan menyukai anaknya menjadi satu dari sedikit Lotus Baby yang ada di dunia. Terimakasih ayah, sungguh cintamu tak terkira adanya.

Yes I say it aloud. I will do anything, yes, anything to make other women have this experience, their own ecstatic birth.

PASCA PERSALINAN

Semua begitu mulus dan indah. Tidak ada kata begadang dalam kamus Maulana Yusuf Ghifari, anak ini lahir dengan sangat sadar dan minim trauma. Kondisi saya kuat, lebih baik dari pengalaman sebelumnya. Satu jam setelah bersalin saya BAK sendiri, tidak ada kateter, tidak ada perut diremas-remas paksa untuk mengosongkan urin. Di hari ketiga saya bisa BAB dengan lancar. Perdarahan saya berkurang dengan cepat. Hari keempat nyeri jahitan saya hilang, duduk-bangun-jalan sudah tidak kikuk lagi. Menyusui sama sekali bukan masalah, yusuf menggemuk dengan cepat di minggu pertama hidupnya.

Satu-satunya alasan Yusuf bisa menangis kencang sekali setengah mengamuk adalah tak sabar ingin minta nenen. Minumnya Alhamdulillah banyak sekali sampai marah-marah tidak mau ditunda. Lotus Birth berjalan lancar dengan dukungan semuanya. Tidak ada istilah jaundice, karena selain kami melakukan Lotus Birth, cahaya matahari pagi Alhamdulillah juga lagi bagus sekali. Menjemur Yusuf adalah waktu paling favoritku sambil tafakur alam, menikmati hangat matahari, kicauan burung, udara bersih, berada di sini kini.

Mama takjub sekali melihat pengaruh Lotus Birth terhadap ketenangan Yusuf, dia barulah memuji saya, “Dek, kamu tuh aneh tapi ternyata anehnya bagus dan bermanfaat ya.” Akhirnyaa mamaku bangga punya anak setengah dukun. Baim juga mengerti bahwa sementara ini dia harus jarang bersama bundanya, karena bunbun sedang menyusui adiknya on demand tanpa henti. Rasa sedih sih pasti ada, saat ayah harus kembali ke Riau, kami harus berpisah sementara; atau saat saya sedang kangen sekali sama Baim, lalu dia datang dan memeluk saya kuat dan lama sekali, aah terharu Nak, Bunbun yakin waktu akan berjalan cepat. Adikmu akan cepat besar dan kuat, kalian akan segera bermain bersama. Kalian akan tumbuh bersama menjadi dua perjaka tampan. Bayangan Bunbun sudah melayang-layang ke beberapa tahun ke depan di mana kita berempat akan melewatkan waktu indah bersama, liburan, petualangan, belajar dan bersenang-senang. Life is good, many sweet things are waiting in front of us.

Bunda sekalian yang selalu dekat di hatiku, hamil dan melahirkan tidak terjadi setiap hari dalam hidup kita. Seumur hidup mungkin hanya dua atau tiga kali. Berikanlah dan curahkanlah yang terbaik untuk diri anda sendiri dan bayi anda. Karena saya, anda, kita semua adalah permaisuri keluarga. Siapapun berhak mendapatkan Gentle Birth/Ecstatic Birth, raihlah dan usahakanlah sebisa mungkin. Saya telah menjadi bukti hidup, dan saya ingin anda semua juga.***

Kisah Bunda Hanita Fatmawati, juga di-publish di Bidan Kita.

Miracle’s Journey of Jeremiah Raphael Charis Simbolon

Kisah Mbak Tantri Maharani Setyorini, dari dokumen grup FB Gentle Birth Untuk Semua.

First time I saw my son
I knew I was in love
Because he was the gift I got from somewhere up above
O wow, o yes, o joy, so joy right here in my arms
He looks at me, I can see he’s showing all his charms
Can’t remember what I do before I saw his face
But now he’s here and I can feel his amazing grace

8weeks

Mami baru sadar hari ini kalau dede sudah ada di perut mami 8 minggu ini, itu juga karena flek-flek yang Mami kira haid.. Tapi ternyata itu tanda dari dede buat kasih tau, “Mih.. aku sudah datang, sekarang sudah ada di rahim Mami loh, senang bisa sampai di rahim mami.”

Rasa syukur tak terhingga, karena saya diizinkan kembali mengikuti sekolah kehidupan luar biasa selama kurang lebih 40 minggu.. Kembali dikandung oleh Sang Pencipta lewat “ruh” yang ditiupkan di rahim saya.

Bersiap secara lahir dan bathin, sama halnya seperti anak yang baru mau masuk sekolah.

Semua dipersiapkan, baik fisik maupun bathin juga mempersiapkan seluruh keluarga termasuk putri saya yang luar biasa, Jemima.

Di kehamilan kedua ini tidak ada keinginan mutlak yang ingin saya raih, berbeda dengan persalinan pertama saya… Harus ini dan itu… Tanpa menilai tubuh saya sendiri… Kehamilan kali ini, saya belajar PASRAH…

Kata pasrah, buka berarti pasraaaahhh tidak melakukan apa2.. tetapi saya jauh lebih pasrah menilik kedalam diri saya dan mendengar lebih dalam apa kata tubuh saya dan bayi saya.

20weeks

Setelah ikutan berjalan-jalan bersama ibu Lanny Kuswandi, bude Yesie Aprillia dan cici Fonda Kuswandi untuk sharing di Tasikmalaya, ternyata mungkin saya kecapean. Dan beberapa hari setelah itu, saya terkena cacar air /rubella.

Sedih rasanya, bukan sedih karena saya merasakan ketidaknyamanan di dalam tubuh saya, tetapi karena saya pernah membaca bahwa apabila ibu yang sedang hamil kena rubella, maka anaknya bisa cacat bawaan karena virus rubella tersebut.

Tapi saya kembali pasrah. Dengan doa permohonan dan niatan bahwa anak saya lahir sempurna baik lahir maupun bathinnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan seluruh keluarga di rahim saya baik ari-ari, air ketuban, selaput ketuban sampai tali pusatnya semua sehat.

24weeks

Siang-siang bolong… kok celana dalam saya basah, ya? Setelah dicek, kok ada noda darah dan saya tau ini kurang baik, sehingga saya memutuskan untuk cek jantung bayi dan semuanya. Puji Tuhan aman. Tetapi kata dokter, Plasenta saya letaknya di pinggir agak ke bawah. hikksss…itu yg bikin flek tadi keluar katanya. Kata dokter lagi, “wah apa bisa lahir lewat bawah nih? kalau ari2 dibawah terus…”

“Duh Gusti, Mohon kekuatan pada saya, dan mohon kesehatan juga untuk anak saya.”

Sambil terus berdoa, saya sangat rajin sekali untuk berkomunikasi dan saya fokuskan tiap hari berbicara dengan ari-ari (plasenta) supaya entah bagaimana caranya, supaya dia bergerak makin keatas, sehingga Charis mudah saat melewati proses lahirnya…”

28weeks

Lagi-lagi ada cairan yg keluar tanpa saya sadari, dan seperti ngompol.. lumayan banyak.. Saya khawatir ini air ketuban, dan saya cek… ternyata air ketuban saya masih banyak, tetapi kembali saya komunikasikan pada selaput ketuban , air ketuban juga bayi saya… ini belum saatnya… ini belum saatnya… bertahanlah didalam sana sampai saatnya tiba… dede bayi masih terlalu kecil, dan posisinya belum baik, waktu itu masih sungsang.

Pre-natal yoga, taichi for pregnant, ideomotor, relaksasi sampai chatting webcam dengan dede bayi via mother healing touch selalu saya lakukan, hanya untuk melihat sedang apa dia disana.. Apakah ari2 sudah ditempatnya yang paling baik? Apakah posisi dede sudah oke? Dan ternyata sampai usia 39weeks 3hari dede masih asik ajojing dirahim Mami, sampai2 bude Yesie bilang… “ancene seneng breakdance rin… anakmu”(memang seneng breakdance rin anakmu), hehehehehe….

Selama sungsang, demi kembalinya si dede ke letak kepala semua usahapun dilakukan, mulai nungging, komunikasi, pijat accupresure sendiri, pakai moksa sendiri, iseng kasih senter di perut bawah tiap mau tidur, atau nyalain musik dan ditaruh tepat diatas vagina.. Si dede emang kasih respon… Kalau didaulat untuk letak kepala, dia langsung ajaa muter badannya, dan posisi jd baik lagi .. kepala dibawah.. tapi gak lama kalau dia mau ajojing.. ya muter2 lagi didalam, sampai akhirnya saya menyerah… hahahahahaha… Saat ada waktu berbicara berdua dengan dede, hati saya seperti denger dede bilang.. “tenang ajaa mih, aku tau yg paling baik untuk persalinanku.. aku bakal muter sendiri tanpa mami apa2in kalau memang aku sudah siap untuk keluar.”

Dan janji si dede ditepati di 39weeks 3 hari..hahahahha.. Saat papinya datang, entah apa yang bikin dia berbalik ketika mbah putri yang sudah mulai khawatir campur gemes karena cucunya sampai 39weeks blm mapan, pengen periksa posisi si dede dan… si dede sudah mapan katanya, bahkan katanya sudah masuk panggul dan turun.

Wowwwww…. Mami cuma bisa takjub aja de… Oke oke, Mami ga akan maksa, apalagi intervensikan apapun lagi ke kamu… Mami hanya bantu dengan pelvic rocking dan squatting posisition tiap hari.

Sampai suatu malam, saya – papinya Jemima dan Jemima tidur bersebalahan sambil bercanda dan iseng2 nanya ama kakaknya, “Kak, kapan dede lahir?” Jawab si kakak, “enam… tujuh… sembilan..” Kita berdua ketawa dengernya.. banyak amat kak angkanya? ini tanggal lahir dede atau nomer togel? hehehehhe…. dede laki2 atau perempuan kak? “laki-laki mih..”jawab si kakak…

Kita ngangguk-ngangguk ajaa…

5 desember 2011

Udah tanggal 5, kok blm ada tanda2 cinta ya?? pasrahhh…..pdahal kata kaka kmrn ada tgl 6 nya… hmm

6desember 2011

Nesting inc saya keluar… tiba2 pengen mandiin mobil dan bersihin rumah.. hahahaha, sampai2 tetangga sebelah melongo… itu mbak rini gak salah? lagi hamil besar masih nyuci mobil sendiri? hahahaha…dilanjut bersihin rumah terutama kamar.

Eh ternyata, saat saya mau mandi sore.. Saya tersenyum lebar sekali ketika melihat flek darah di celana dalam saya… Horeeeee… Kalau bisa loncat, mungkin udah loncat2 kegirangan saat itu.. Tapi kok sampai tgl 7 desember ga ada kontraksi ya? Tanda tanya… hehehehehehe… duren, mangga, jus jeruk sudah saya lahap semua.. tapi kontraksi tak kunjung datang…

tgl 8 desember

Bude Yesie sms, “piye rinn??” .. – masih tenang dan tentram bude, neek bude ono pasien lain.. wis gapapa, aku nyuwun doane wae, aku karo mamah iso kok.. tenang wae – tapi ternyata bude yesieku emang luar biasa.. langsunng dibales.. weess… “aku wes nang ndalan, engko sorean paling nyampe cilacapnya…”

Setelah Bude nyampe, Bude bersih2 badan, bercanda2 dan memang belum ada kontraksi yg adekuat sama sekali sehingga saya dan Bude sama2 sepakat untuk main moksa… Walau sambil makan mendoan.. ehehehhe..

Malamnya, saya ijin Bude Yesie untuk tidur duluan karena mau ngelonin si kakak, rasanya kok waktu dengan si kakak berdua makin singkat ya.. Jadi saya putuskan untuk menggendong kakak dengan kain dan saya bilang, “Kak, sini Mami gendong aja ya.. kita main ayun2an..” dengan senyum lebar kakak senang sekali dan jawab.. ayoo mih..

Sepertinya kita punya feeling yang sama kalau sebentar lagi dede mau datang…

Malam ini saya bisa tidur tenang dan nyaman, hanya sesekali bangun karena kakak minta minum…

Kalau Papi sudah ga bisa tidur 3 harian ini, saya intip..Papi baru bisa tidur nyenyak setelah jam 3 pagi..

9 desember 2011

Pkl 03.30 tiba tiba terbangun entah kenapa, dan langsung ke kamar mandi untuk kencing… Makin terkaget-kaget lihat darah di pembalut makin banyak.. dan wowww… “dia datang” gelombang rahim yang kutunggu-tunggu…

Setelah masih bertanya2 apa ini masih palsu atau sudah saatnya? Karena jujur saja saya masih bisa senyam-senyum, masih ngecek kolam persalinan, masih ngemil cokelat sambil pegang hp karena saya catat tiap berapa menit si gelombang rahim ini datang… Sudah 4 menit sekali dan makin intens saya makin percaya diri… Dede, mami sudah siap.. Ini tgl 9 seperti yang kakak bilang…

Mengisi air kolam, mengecek semua persiapan, lalu membangunkan Mbak Aweng untuk minta dibuatkan mie rebus karena saya harus makan dulu sblm merayakan pesta besar2an menyambut dede sebentar lagi… Sambil menunggu mie matang, saya main bola sambil menjaga Jemima yang masih tidur lelap.

Gelombang rahim mulai menyapa dengan lembut dan ramah sekali.. hehe… Setelah makan setengah mangkok mie rebus+ nasi dan telor, juga minum teh hangat.. Rencana saya mau minta tolong suami untuk mandiin saya…

Saya bangunin papinya Jemima… saya bilang, “Pih… temenin Mami mandi dong,” suami sambil setengah sadar masih bingung. “Mami mau mandi pagi2?” Sambil bingung, dan saya jawab… iyaa dede sebentar lagi lahir.. dan langsung.. haaaapppp….

Papinya Jemima meloncat dari tempat tidurnya sambil tanya lagi, “Beneran mih?”… “Iyaaa.. ayooo temenin Mami mandi dulu sekarang ya..”

Tanpa air hangat.. saya mandi dibantu suami, dan tiba2..gelombang rahim itu datang lagi… Ingin jongkok sekali rasanya… “Sambil ambil nafas, papinya Jemima selalu berkata..”Tenang ya mih, papi disini… mami tenang aja, nafas yang nyaman, makin tenang dan rileks…kita bantu dede ya.. mami hebat, hebat sekali..”

Dan waktu suami membantu membersihkan (maaf) bagian vagina saya yg keluar darah, dia dikejutkan oleh sesuatu yang mirip balon… “Mih… ini apa?? kepala dede? atau apa?? mih kok ada balonnya?”

Saya coba pegang dan… “Puji Tuhan ini selaput ketuban… Berarti pembukaan sudah besar.. Pih, sebentar lagi kita ketemu dede.”… dan langsung saya keringkan tubuh dan berpakaian seadanya…

Bude Yesie sudah standby di luar…

Sambil terus bersandar di pelukan Papinya Jemima… dan bergoyang nyaman… saya masih sempat minta papi bernyanyi Que Sera-Sera..lagu kesukaan saya-papi dan kakak Jemima…papi bernyanyi lembut di telinga saya, walaupun suarannya ga sebagus Delon Indonesia Idol, tapi ini lagu terbagus dan termerdu yang saya pernah dengar….(makasih ya pih..)… sambil terus berusaha tenang dan bernafas lembut…

Pembukaan sepertinya bertambah dengan cepat.

05.30

Mama datang dan memeriksa pembukaan saya.. Katanya sudah 6cm dan sangat tipis…

Setelah itu saya masih minta dipeluk Papinya Jemima, walau kadang minta menungging juga…

06.30

Budeee… saya pengeenn “pooppp”…. saya mau masuk ke kolam… lalu Bude yesie bersama suami saya, membantu saya masuk ke kolam…byurrr….dan langsung ceeeeessssssssssssssssss….. nyamaaannn sekali rasanya….

Dan setelah bude periksa dalam lagi… Bude bilang.. “Tenang rin,,, ini sudah lengkap, yang happy ya.”

Sambil bersyukur di dalam hati, mencoba beri senyuman paling lebar… Saya bilang ayoo dede sayang.. Sebentar lagi kita ketemu… gelombang rahim yg sangat baik membuat saya bolak-balik tersenyum, kadang mengeluarkan suara seperti sapi… (hahahahahha), kadang bikin pengen jongkok… Tiba2 nungging sendiri trus rebahan lagi.. Ternyata itu semua mekanisme tubuh untuk mempermudah bayi saya untuk keluar … Dan disaat2 gelombang rahim datang dengan hebat.. Suami saya mencium saya dengan mesra sekali… endorfin keluar dan nyaman sekali rasanya… Rasanya ingin berulang2 berciuman dikolam.. Tapi ga enak juga yah ama yang nonton… hehehehehehe…

06.56

“Sebentar lagi jam 7… sebentar lagi jam 7… kata kakak angka 7 pasti sebentar lagi lahir… “dalam hati saya, teruslah berjuang mami… sesekali saya mengusap lembut kepala dede yang sudah terlihat besar di bibir vagina saya… saya bilang, Charis sayang… sebentar lagi kita ketemu…

Pkl 06.59 setelah Papa Herry datang, keluarlah Charis dengan posisi terlentang.. Ternyata dia lahir dengan letak puncak kepala yang biasanya bayi dengan letak puncak kepala ini butuh waktu yg lebih lama lagi untuk keluar karen posisinya tidak maksimal… tapi bayi memang luar biasa, charis hanya butuh waktu 1/2 jam saja untuk meluncur dengan mulus di air…. Puji Tuhan…

Setelah itu, Charis langsung mami dekap di dada Mami, ini perayaan besar2-besaran untuk kami berdua setelah sekian lama ingin berduaan berpelukan.. Hari ini kami bisa mewujudkannya…dan saya sangat bersyukur anak saya sehat sempurna…

IMD pun dilakukan sambil Mami pindah ke tempat tidur, adik ari-ari pun keluar dengan mudah.. dan kami (saya dan suami) sudah sepakat untuk memberikan hak yang terbaik untuk anak kami, sehingga kami memilih lotus birth.

Bersyukur asi saya langsung keluar sehingga Charis langsung bisa menyusu sampai puas…

Enam… hari pertama saya mendapat flek..

Tujuh…. jam lahirnya dede.. walau kurang semenit…

Sembilan… tanggal lahir si dede…

Terimakasih Jemima, healer-ku sayang.. kamu memang luar biasa nak…

Terimakasih untuk semua atas doa dan supportnya pada kami sekeluarga ..

Mama-papa (cilacap dan bandung), ayah&bunda juga quinby, bou2 cantik, semua team di klinik, Bude Yesie Aprillia, Mami Lanny Kuswandi, mbak wiji – mbak erma yg sms kasi support…semua yg sudah mendoakan kami….

My love, my boy, my son, my joy always keep your glow
And know that love will be with you wherever you may go
And if something should fall apart somewhere down the line
Just tell me all about it and I will make it fine….

I love u my boy,
Jeremiah Raphael Charis Simbolon

best present for you Love, Dear My Albert Simbolon